Digigit Ular saat Berwisata? Ini Pertolongan yang Tepat

  • 08 Agt 2026 20:41 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Mengingatkan wisatawan agar memahami pertolongan pertama saat menghadapi gigitan ular. Pasalnya, tindakan yang selama ini dipercaya masyarakat justru dapat memperburuk kondisi korban. Dokter spesialis emergensi dan toksinologi, Dr. dr. Tri Maharani M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), menjelaskan langkah yang tepat.

Tri Maharani, yang akrab disapa Maha, melarang masyarakat mengisap luka akibat gigitan ular. Selain itu, korban juga tidak boleh menyayat luka atau sengaja mengeluarkan darah. Menurut Maha, racun ular menyebar melalui sistem limfatik atau getah bening.

"Jangan disedot, jangan disayat, jangan dikeluarkan darahnya. Karena bisa ular itu masuk melalui sistem getah bening, bukan lewat pembuluh darah," kata Maha.

Jangan Mencoba Mengeluarkan Racun

Maha menjelaskan, racun ular tidak akan keluar hanya dengan mengisap atau mengeluarkan darah. Sebaliknya, aktivitas tersebut dapat menimbulkan masalah tambahan pada luka korban. Karena itu, masyarakat perlu menghindari cara tradisional tersebut.

Selain itu, korban sebaiknya mengurangi gerakan setelah mengalami gigitan ular. Gerakan berlebihan dapat mempercepat kerja sistem limfatik dalam membawa racun menuju bagian tubuh lainnya. Oleh sebab itu, korban perlu tetap tenang sambil menunggu pertolongan.

Maha juga meminta wisatawan tidak sibuk memastikan jenis ular sebelum mencari bantuan. Indonesia memiliki sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 jenis ular berbisa. Karena jumlah tersebut cukup banyak, masyarakat awam sulit mengenali seluruh jenis ular dengan tepat.

"Indonesia punya sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 jenis ular berbisa. Kita tidak mungkin mempelajarinya satu per satu," kata dia.

Karena itu, Maha menyarankan masyarakat menganggap setiap gigitan ular sebagai keadaan darurat. Langkah tersebut membantu korban mendapatkan pertolongan lebih cepat tanpa menunggu kepastian jenis ular. Selanjutnya, korban perlu segera menuju fasilitas kesehatan terdekat.

"Anggap saja semua ular berbisa. Yang paling penting adalah segera melakukan pertolongan pertama dan menuju fasilitas kesehatan," katanya.

Imobilisasi Jadi Pertolongan Awal

Maha menyebut imobilisasi sebagai langkah pertolongan pertama yang paling dianjurkan. Imobilisasi berarti membatasi pergerakan anggota tubuh yang terkena gigitan. Dengan cara tersebut, korban dapat mengurangi risiko penyebaran racun melalui sistem getah bening.

Bagian tubuh yang tergigit sebaiknya tetap diam selama proses evakuasi. Jika memungkinkan, masyarakat dapat memasang bidai sederhana untuk membatasi gerakan. Setelah itu, korban perlu segera mendapat penanganan di fasilitas kesehatan.

"First aid yang benar adalah imobilisasi, kemudian segera ke fasilitas kesehatan," ujar Maha.

Selanjutnya, korban perlu menghindari aktivitas fisik setelah mengalami gigitan ular. Berlari atau berjalan terlalu jauh dapat membuat otot terus bekerja. Kondisi tersebut dapat mempercepat pergerakan racun melalui sistem limfatik.

Karena itu, korban sebaiknya tetap tenang selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan. Korban juga perlu meminimalkan gerakan pada tubuh, terutama bagian yang terkena gigitan. Dengan begitu, korban dapat mengurangi aktivitas otot sambil menunggu penanganan medis.

Teknologi Bisa Membantu Saat Darurat

Maha juga mengajak wisatawan memanfaatkan teknologi ketika menghadapi keadaan darurat di alam. Dia mengembangkan Virtual Poison Center sebagai layanan konsultasi berbasis kecerdasan buatan atau AI. Layanan tersebut memberikan panduan pertolongan pertama untuk gigitan ular dan sengatan hewan berbisa.

Selain itu, Virtual Poison Center juga dapat membantu menghadapi kasus keracunan tanaman. Menurut Maha, layanan tersebut dapat memberikan arahan awal kepada masyarakat. Namun, korban tetap perlu menuju fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

Di sisi lain, wisatawan juga perlu menghindari interaksi langsung dengan ular. Maha meminta masyarakat tidak menangkap, memukul, atau mendekati ular yang mereka temukan. Sebab, ular umumnya menggigit ketika merasa terancam.

"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya ketika merasa terancam," kata dia.

Jika wisatawan menemukan ular di jalur pendakian, mereka sebaiknya menjaga jarak. Kemudian, berikan ruang agar ular dapat bergerak menjauh dengan sendirinya. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa.

"Jika menemukan ular di jalur pendakian atau lokasi wisata, langkah paling aman adalah menjaga jarak dan memberi ruang agar satwa tersebut pergi dengan sendirinya," dia menegaskan.

Dengan demikian, wisatawan perlu mengutamakan ketenangan setelah mengalami gigitan ular. Hindari menyedot luka, menyayat kulit, atau mengeluarkan darah dari bagian yang tergigit. Selanjutnya, lakukan imobilisasi dan segera menuju fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....