DME Digadang Jadi Pengganti LPG, Solusi Energi atau Tantangan Baru?
- 07 Mei 2026 10:20 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Pemerintah terus mendorong penggunaan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini masih cukup tinggi di Indonesia.
DME merupakan bahan bakar berbentuk gas yang dapat diproduksi dari batu bara, gas alam, hingga biomassa. Secara karakteristik, DME disebut memiliki sifat yang mirip dengan LPG sehingga bisa digunakan untuk memasak dengan beberapa penyesuaian pada kompor maupun tabung gas.
Rencana pengembangan DME mulai ramai dibahas setelah pemerintah melihat besarnya anggaran subsidi LPG setiap tahun. Ketergantungan terhadap impor juga dianggap berisiko terhadap ketahanan energi nasional, terutama ketika harga energi dunia mengalami kenaikan.
Dengan hadirnya DME, pemerintah berharap Indonesia mampu memanfaatkan sumber daya energi dalam negeri sekaligus mengurangi beban impor. Beberapa proyek hilirisasi batu bara untuk produksi DME bahkan telah dirancang di sejumlah daerah.
Namun, penggunaan DME masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah nilai kalor DME yang lebih rendah dibanding LPG. Artinya, konsumsi bahan bakar bisa lebih banyak untuk menghasilkan panas yang sama. Selain itu, infrastruktur distribusi dan penyesuaian peralatan rumah tangga juga menjadi pekerjaan besar yang harus disiapkan.
Di sisi lain, sejumlah pengamat energi menilai pengembangan DME dapat membuka peluang industri baru dan menyerap tenaga kerja. Hilirisasi energi juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Meski demikian, isu lingkungan turut menjadi perhatian. Produksi DME berbasis batu bara dianggap masih menghasilkan emisi karbon yang cukup tinggi. Karena itu, pengembangan DME berbahan baku biomassa atau energi yang lebih ramah lingkungan mulai didorong sebagai solusi jangka panjang.
Bagi masyarakat, hal yang paling penting nantinya adalah soal harga, keamanan, dan kemudahan penggunaan. Pemerintah perlu memastikan bahwa jika DME benar-benar digunakan sebagai pengganti LPG, maka distribusi dan teknologinya sudah siap sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Ke depan, DME dipandang bukan sekadar pengganti LPG, tetapi bagian dari upaya besar menuju kemandirian energi nasional. Meski masih memerlukan banyak kajian dan penyesuaian, wacana ini menjadi tanda bahwa Indonesia tengah mencari alternatif energi yang lebih berkelanjutan dan tidak terlalu bergantung pada impor.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....