Masjid Agung Pondok Tinggi, Warisan Sejarah Kerinci
- 27 Feb 2026 18:09 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh – Masjid Agung Pondok Tinggi memancarkan pesona sejarah panjang sejak didirikan pada 1 Juni 1874. Dibangun melalui gotong royong masyarakat, masjid ini menjadi saksi bisu perkembangan Islam di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi.
Nama masjid berubah menjadi Masjid Agung Pondok Tinggi setelah kunjungan Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta, pada tahun 1953. Sejak itu, keberadaannya semakin dikenal sebagai salah satu ikon religi dan budaya masyarakat Kerinci.
Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, arsitektur masjid ini mencerminkan kekhasan Nusantara. Atap tumpang tiga berbahan kayu, interior yang didominasi material kayu dengan ukiran khas Kerinci, serta lantai ubin menghadirkan nuansa tradisional yang kental.
Haidir, warga Pondok Tinggi, mengatakan motif dan hiasan geometris yang menghiasi dinding menambah keelokan seni rupa masjid tersebut.
“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah; ia adalah saksi sejarah yang hidup,” ujarnya, Sabtu.
Keunikan lainnya terlihat pada bedug berukuran panjang lebih dari lima meter. Selain menjadi penanda waktu salat, bedug tersebut juga berfungsi sebagai simbol pertemuan warga atau penanda peristiwa penting dalam tradisi masyarakat Kerinci.
Tak hanya itu, konstruksi bangunan masjid yang menggunakan kayu tanpa paku menjadi daya tarik tersendiri. Tiang-tiang kayu berdiri megah dihiasi ukiran motif tumpal, sulur-suluran, dan flora yang memperkuat nilai seni dan budaya lokal.
Keistimewaan lainnya terdapat pada lokasi muazin saat mengumandangkan azan. Tempat tersebut berada di atas tiang utama masjid, berupa panggung kecil yang dihiasi ukiran motif flora, menambah kekhasan arsitektur Masjid Agung Pondok Tinggi.
Hingga kini, masjid bersejarah ini tetap terawat dan menjadi kebanggaan masyarakat Sungai Penuh, sekaligus destinasi religi yang menyimpan nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....