Child Grooming, Kekerasan Sunyi di Balik Kasih Sayang
- 13 Jan 2026 21:07 WIB
- Sungaipenuh
KBRN, Sungai Penuh: Isu child grooming kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena laporan kriminal atau operasi aparat, melainkan lewat sebuah buku. Broken Strings, karya aktris Aurelie Moeremans, membuka kembali luka lama yang selama ini kerap tersembunyi rapi di balik kata “perhatian” dan “kasih sayang”.
Lewat buku tersebut, Aurelie mengisahkan pengalaman pribadinya saat mengalami child grooming di usia 15 tahun. Relasi yang terbangun kala itu tampak aman, penuh empati, bahkan memberi rasa dimengerti. Namun perlahan, hubungan tersebut berubah menjadi ruang manipulasi, kontrol, dan ketergantungan emosional yang tidak disadari.
“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie di akun Instagram pribadinya, Senin, 12 Januari 2026.
Kisah ini menyentak kesadaran publik: bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk fisik atau paksaan kasar. Ada yang datang perlahan, senyap, dan nyaris tak terasa.
Kekerasan yang Datang Pelan-Pelan
Dilansir dari Alodokter, child grooming adalah bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk membangun kedekatan emosional, dengan tujuan eksploitasi, termasuk pelecehan seksual. Proses ini tidak terjadi secara instan. Ia tumbuh perlahan, dibungkus perhatian berlebih, pujian, hingga sikap seolah menjadi satu-satunya orang yang memahami korban.
Pelaku biasanya memanfaatkan kondisi psikologis anak yang sedang rapuh—kepercayaan diri rendah, masalah keluarga, atau kebutuhan akan figur pendukung. Setelah rasa percaya terbentuk, korban mulai bergantung secara emosional. Pada titik inilah relasi menjadi tidak setara.
Child grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui media sosial. Dunia digital memperluas ruang pelaku untuk mendekati korban tanpa pengawasan, menjadikan batas antara aman dan berbahaya semakin kabur.
Ketika Perhatian Menjadi Alat Kontrol
Dalam banyak kasus, korban tidak langsung menyadari dirinya sedang dimanipulasi. Justru yang muncul adalah rasa bersalah, bingung, dan takut kehilangan. Pelaku kerap menggunakan ancaman halus, intimidasi emosional, hingga upaya menjauhkan korban dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Tanda-tanda child grooming sering kali luput dari perhatian karena dianggap sebagai fase remaja biasa. Padahal, sejumlah perubahan perilaku patut diwaspadai.
Beberapa di antaranya adalah menjalin kedekatan intens dengan orang dewasa yang jauh lebih tua, sering membicarakan satu sosok tertentu secara berlebihan, menarik diri dari keluarga dan teman sebaya, menerima hadiah yang tidak wajar, serta menjadi lebih tertutup dan mudah tersinggung.
Korban kerap kesulitan membedakan mana perhatian tulus dan mana manipulasi. Seperti yang digambarkan dalam Broken Strings, kesadaran itu bahkan baru datang bertahun-tahun kemudian.
Membuka Mata, Melindungi Anak
Viralnya kisah Aurelie Moeremans menjadi pengingat bahwa child grooming bukan isu jauh atau langka. Ia bisa terjadi di sekitar kita, dalam relasi yang tampak wajar, bahkan dipercaya.
Kesadaran, komunikasi terbuka, dan pendampingan emosional menjadi kunci utama pencegahan. Anak perlu ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Orang dewasa pun dituntut lebih peka membaca perubahan perilaku yang tampak sepele, namun menyimpan sinyal bahaya.
Karena di balik perhatian yang terlihat manis, bisa saja tersembunyi kekerasan yang sunyi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....