Eks Sekolah Chung Hwa Mentok akan Dijadikan Museum Tionghoa

  • 25 Jun 2026 14:45 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Bangka Barat - Pemkab Bangka Barat akan membangun Museum Tionghoa di Mentok. Hadirnya Museum Tionghoa akan menguatkan Mentok sebagai kota sejarah di Kepulauan Bangka Belitung.

"Beberapa waktu lalu kami sudah berkunjung ke bangunan bekas sekolah Chung Hwa di pemukiman dekat Pasar Mentok. Kita lakukan perencanaan matang agar bangunan itu bisa dibangun Museum Tionghoa," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat, Fachriansyah, dalam keterangan yang diterima RRI, Kamis, 25 Juni 2026.

Museum Tionghoa nantinya akan menyimpan berbagai benda bersejarah, khususnya sejarah warga Tionghoa di Bangka Barat.

"Semoga bisa segera terwujud, mohon dukungan juga kepada seluruh warga dan alumni sekolah Chung Hwa," ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, M. Ferhad Irvan menyebut, bamyaknya peranakan Tionghoa di Pulau Bangka tak lepas dari sejarah pertambangan timah sejak 300 tahun silam.

"Mereka datang dari beberapa provinsi di China untuk bekerja sebagai penambang bijih timah dan pada perkembangannya sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan rukun dan penuh toleransi bersama warga lokal dan etnis lainnya di Pulau Bangka," ucap Ferhad Irvan.

Menurut dia, kerukunan hidup bersama antaretnis di Pulau Bangka patut menjadi contoh kuatnya toleransi dan kebersamaan di daerah itu. Lebih jauh dia berharap, upaya revitalisasi sekaligus pemanfaatan bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2023 tersebut, mendapatkan dukungan seluruh pihak sehingga bisa dikembalikan seperti semula dan dimanfaatkan untuk memberikan dampak positif bagi kualitas sumber daya manusia maupun perekonomian warga dan daerah.

Arsitektur bangunan eks sekolah Chung Hwa ini memadukan gaya arsitektur unik, mengadopsi gaya Eropa dengan sentuhan ornamen khas China, sekaligus mengikuti langgam Indische (gaya arsitektur kolonial yang telah disesuaikan dengan iklim tropis Hindia Belanda).

Material dinding dari bata merah yang kokoh, atap genteng tanah liat dengan rangka kayu dan detail profil khas tradisional China yang memperkaya estetika fasad.

Pada awal abad 20, bangunan seperti ini bukan hanya simbol kemajuan teknologi konstruksi, tetapi juga representasi status sosial dan keterbukaan terhadap multikultural. (Ril)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....