Maras Taun, Warisan Budaya Tak Benda di Desa Lassar Belitung

  • 05 Apr 2026 22:33 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung - Masyarakat Desa Lassar Kabupaten Belitung menggelar adat Maras Taun. Mereka memusatkan tradisi adat itu di kediaman Pak Dukun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Minggu, 5 April 2026.

Maras Taun merupakan warisan budaya tak benda, sebagai kearifan lokal yang masih terpelihara hingga saat ini. Ekspresi budaya ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagai warisan budaya tak benda, pada Maras Taun masyarakat setempat menyelenggarakan ritual, dan upacara yang terkait nilai-nilai kepercayaan mereka. Ritual dipimpin oleh orang yang ditokohkan seperti dukun kampung.

“Maras Taun ini memiliki nilai spiritual sebagai bentuk rasa syukur dan harapan masyarakat kepada Allah Swt., sekaligus cerminan kearifan lokal yang harus terus kita lestarikan,” kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani ketika menghadiri Maras Taun itu, Minggu, 5 April 2026.

Kebersamaan Gubernur Kepulauan Bangka Belitun Hidayat Arsani (tengah) bersama masyarakat Desa Lassar Kec. Membalong Kab. Belitung ketika menghadiri Maras Taun, Minggu, 5 April 2026. (Foto: Alvin/Biro Admin Babel)

Gubernur menilai Maras Taun merupakan simbol kuat kebersamaan, gotong royong, serta nilai-nilai spiritual dan sosial yang hidup di tengah masyarakat. Ia mengaku bangga melihat kehidupan yang rukun, aman, dan harmonis di masyarakatnya.

Janji Gubernur, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, akan terus memberikan dukungan terhadap pelestarian nilai-nilai budaya dan tradisi daerah. Hal itu penting sebagai upaya memperkuat jati diri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ketua FKAB (Forum Kedukunan Adat Belitung), Muktie Maharip menuturkan ritual Maras Taun merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat. Keberadaan Forum Kedukunan Adat Belitung menjadi wadah pemersatu para dukun kampung untuk memastikan tradisi tersebut tidak hilang ditelan zaman.

“Ini acara rutin kami tiap tahun, syukuran atau selamat kampung. Kami meneruskan adat budaya zaman dulu dan akan terus kami pelihara untuk menjaga keharmonisan,” ungkap Muktie. (Sumber Rilis: Vera/Tisa/Biro Adpim Setda Babel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....