Bedug dari Era Zadul hingga Zaman Now

  • 18 Mar 2026 23:36 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Bedug, alat musik tradisional yang pernah menjadi media komunikasi utama di zaman dulu (zadul), masih digunakan di masjid-masjid sebagai alat untuk menandai waktu salat dan acara keagamaan lainnya. Pada Bulan Ramadan ini, suara bedug maghrib sangat ditunggu-tunggu umat Islam untuk mengawali buka puasa.

Bedug memiliki sejarah panjang sebagai media komunikasi di masyarakat. Di era digital, bedug mungkin terlihat kuno, tapi di masjid-masjid, bedug masih menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan. Bedug memiliki nilai historis dan spiritual yang tidak dapat digantikan oleh teknologi,

Dari literasi sejarah, bedug pada masa penyebarluasan Agama Islam di Pulau Jawa oleh Wali Songo, disiapkan di setiap masjid, dipukul sebelum mengumandangkan azan, panggilan salat lima waktu. Itu pula yang menjadi strategi dakwah, khususnya yang dilakukan Sunan Kalijaga untuk mempercepat penerimaan masyarakat terhadap Agama Islam.

Suara bedug memiliki getaran yang kuat dan dapat membangkitkan semangat dan emosi umat. Suara bedug juga dapat membangkitkan rasa kebersamaan dan kesatuan di antara umat dan memperkuat ikatan keagamaan dan kebudayaan.

Bedug sebagai warisan budaya dan keagamaan diharapkan dapat lestari sampai kapan pun. Bedug merupakan bagian dari identitas keagamaan dan budaya.

Pada akhir Bulan Ramadan, bedug kembali menjadi icon. Suara bedug akan serentak terdengar seiring kumandang takbiran di setiap masjid mengiringi ungkapan kebahagiaan umat dalam menyambut Hari Raya Idulfiri.

"Kebahagiaan orang yang berpuasa itu di antaranya datangnya Idulfitri 1 Syawal. Bahagia setelah sebulan penuh berpuasa," kata Zainudin, ketika kultum sebelum tarawih di Masjid Syahidul Mukhlisin Pesona Bangka, Rabu 18 Maret 2026.

1 Syawal 1447 H akan segera tiba. Pada momentum ini, bedug kembali menjadi icon. Terhadap pelestariaannya itu, menggerakkan sebagian umat Islam untuk menyelenggarakan parade festival bedug.

Tak terkecuali di Kabupaten Bangka. Bupati Bangka Fery Insani menyetujui dilaksanakannya parade bedug, sekaligus menutup akhir kegiatan E-MAS Ramadhan Fair 2026 yang di pusatkan di halaman Masjid Agung Sungailiat.

"Kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir pada Acara Penutupan Kegiatan Ramadan Fair 2026 dan Parade Tabuh Bedug Takbiran. Pelaksanaannya sesuai Penetapan 1 Syawal 1447 H dari Pemerintah," kata Bupati Bangka Fery Insani dalam surat undangan yang disampaikan kepada pimpinan-pimpinan satker di Kabupaten Bangka.

Ketua Pelaksana E-Mas Ramadan Fair, Ismir Rahmaddinianto memang mengagendakan kegiatan festival bedug pada malam takbiran 1 Syawal 1447 Hijriah. Ajakan untuk memeriahkan kegiatan itu sudah tersebar luas ke publik.

Ismir Rahmaddinianto mengatakan kegiatan merupakan bagian dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Ramadan Fair 2026. Parade bedug juga sekaligus menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H.

"Untuk ketentuan satu grup maksimal 5 orang, penampilan maksimal 4 menit, boleh membawa peralatan pendukung tambahan, dan untuk bedug telah disediakan panitia," kata Ismir dalam pemberitaan rri.co.id, 4 Maret 2026.

Dengan pelestrarian bedug, seperti yang akan dilakukan Panitia E-Mas Ramadan Fair itu diharapkan dapat terus membangkitkan semangat dan emosi umat, serta memperkuat ikatan keagamaan dan kebudayaan. Bedug akan terus menjadi bagian dari dinamika kehidupan umat Islam di mana pun berada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....