Moderasi Beragama dalam Bingkai Ceria Imlek dan Pawai Tanglong
- 16 Feb 2026 11:50 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Masyarakat Bangka dihadapkan pada nuansa menyambut Imlek dan bulan suci Ramadan. Harmoni Ceria Imlek dan Pawai Tanglong dua kegiatan yang mengundang perhatian masyarakat di Sungailiat Kabupaten Bangka.
Kegiatan bertajuk 'Harmoni Ceria Imlek' diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Abadi tersentral di Kelenteng Kwen Tien Miaw, Jalan S. Parman, Sungailiat, pada 12-16 Februari 2026. Kegiatan bertajuk 'Pawai Tanglong' diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H start dan finish di depan Masjid Agung Sungailiat, Minggu 15 Februari 2026 malam.
Dua kegiatan itu menjadi tontonan elemen masyarakat tua muda dan anak-anak, hampir di setiap segmen rangkaian acaranya tak surut dari penonton. Warga Tionghoa atau bukan, muslim atau nonmuslin tergerak rasa penasarannya untuk menyaksikan keunikan gelarannya.
Sinyalemen sambutan masyarakat terhadap tampilan kedua tajuk kegiatan itu sekaligus mengisyaratkan moderasi beragama terjaga dalam dinamika masyarakat di Sungailiat. Moderasi beragama merupakan sikap atau pendekatan yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan agama, sehingga tercipta kerukunan dan harmoni sosial.
Tertuju pada kegiatan bertajuk 'Pawai Tanglong', kegiatan ini justru dilaksanakan oleh umat Islam. Panitianya generasi muda yang tergabung Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bangka, didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka.
Harmoni Ceria Imlek rutin dilaksanakan setiap tahun oleh komunitas etnis Tionghoa. Pawai Tanglong merupakan perdana di era satu dasa warsa terkahir ini. BKPRMI Bangka dan Pemkab Bangka biasanya menyambut bulan suci Ramadan dengan menggelar tajuk 'Pawai Taaruf' yang dilangsungkan siang atau sore hari.

Tokoh masyarakat berkesempatan melepas peserta Pawai Tanglong di depan Masjid Sungailiat, Minggu 15 Feb 2026 (Foto: RRI/Lang)
Sebutan kata Tanglong atau Imlek, merupakan dua kata yang melekat dalam kultur etnis Tionghoa. Tanglong (dari bahasa Hokkien, yang berarti lentera tradisional Tionghoa yang biasanya terbuat dari bambu dan kertas atau kain, digunakan sebagai hiasan atau untuk penerangan. Imlek berarti "Tahun Baru Tionghoa". Imlek perayaan Tahun Baru Cina yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.
Kosa kata Tanglong, dalam tajuk kegiatan Pawai Tanglong, yang diselenggarakan itu mengandung pesan implisit, bahwa umat Islam menjaga toleransi beragama. Sekaligus mengingatkan ada dua bulan penting yang sama dalam kalender masehi bagi masyarakat di bulan Februari 2026, yakni 17 Februari 2026 bertepatan dengan imlek dan bagi umat Islam hari memasuki awal Ramadan 1447 Hijriah.
Dalam toleransi, umat Islam melakukan itu memang sesuai ajaran Islam. Ajaran Islam menekankan kasih sayang dan keadilan serta pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan. Toleransi dalam Islam berarti menghormati perbedaan dan tidak memaksakan kehendak.
Secara kasat mata, nyata adanya Pawai Tanglong mendapat sambutan masyarakat Sungailiat dan sekitarnya. Mereka hadir, turun ke jalan lintasan pawai, dan di garis start, depan Masjid Agung, turut menyaksikan kilauan cahaya lentera atau lampion yang dibawa para peserta di tengah nuansa malam hari.
"Saya senang melihatnya. Pawai tanglong ini, saya pertama kali lihat. Kita sambut puasa dengan gembira. Terima kasih pada pemda, kalau bisa tiap tahun diadakan aja," kata Bahtiar lelaki paruh baya ketika dimintai komentar oleh Reporter RRI Bustomi di lintasan garis start, Minggu, 15 Februari 2026 malam.
"Saya bawa anak anak, untuk menghibur sekaligus memotivasi agar anak bisa semangat untuk menjalankan ibadah puasa nanti," kata Mirna kepada Reporter RRI, Agus Ratna Sari.
"Baru tahun ini ini ada Pawai Tanglong seperti ini di Sungailiat. Rasanya benar-benar membawa suasana Ramadan, hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak juga terlihat sangat senang," kata Eci, sosok orang tua, yang membawa anaknya nonton pawai ketika ditanyai Dea penulis portal rri.co.id .

Bupati Bangka Fery Insani (hem coklat) ketika diwawanra Reporter RRI Sungailiat Agus Ratna Sari (hijab putih) usai melepas peserta Pawai Tanglong, Minggu 15 Feb 2026 malam (Foto: RRI/Firdaus)
Sementara itu, Bupati Bangka Fery Insani tiada menduga sebelumnya kalau Pawai Tanglong mendapatkan sambutan dari masyarakat. Ia pun meyakini kehadiran elemen masyarakat merupakan wujud terjaganya toleransi sekaligus hiburan.
"Kegiatan ini sebenarnya sederahana saja. Sepertinya masyarakat senang, gembira, ya kami dari pemda senang saja. Kalau masyarakat nyaman, bisa saja kita laksanakan tahun depan," kata Bupati ketika doorstop kepada Reporter RRI, Agus Ratna Sari usai melepas peserta pawai, Minggu, 15 Februari 2026 malam.
Pawai Tanglong yang disambut masyarakat diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, remaja masjid, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan desa dan kelurahan di Kabupaten Bangka.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Rismy Wiramadonna mengatakan pihak panitia telah menyiapkan hadiah kepada peserta yang telah berpartisipasi dan berkreasi di Pawai Tanglong itu. Karena itu panitia menyiapkan tim juri atau penilai.
“Total hadiah yang kami siapkan sebesar Rp15 juta. Nantinya akan dibagi untuk beberapa kategori juara, mulai dari Juara I, II, III,” kata Rismy kepada Reporter RRI, Agus Ratna Sari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....