Tersimpan Kekuatan Ekonomi di Balik Gelar Ruwahan
- 31 Jan 2026 23:27 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Tradisi ruwahan muncul di tengah-tengah dinamika masyarakat di Bangka Belitung. Masyarakat menggelar ruwahan mulai di bulan Syaban tahun hijriah sebelum memasuki bulan Ramadan.
Masyarakat Desa Keretak dan Desa Keretak Atas di Kabupaten Bangka Tengah di antaranya yang mempertahankan ruwahan dan terbilang pelaksanaanya gempita di banding desa-desa lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Gelar ruwahan itu menjadi ikon bagi Desa Keretak, di mana masyarakatnya terlihat kompak.
Ruwahan, yang menjadi kearifan lokal bagi masyarakatnya setiap tahunnya digelar di Desa Keretak dan Desa Keretak Atas. Rangkaian acara berisi nuansa keislaman di pusatkan di satu masjid seraya dihadiri dari berbagai elemen masyarakat setempat. Selain itu sebelumnya mereka bersama-sama membaca Yasinan Akbar di pemakaman Desa Keretak.
Ruwahan itu berlangsung Sabtu, 31 Januari 2026 atau 12 Syaban 1447 H. Sebelum berhimpun di masjid masyarakat Desa Keretak dan Desa Keretak Atas melakukan ziarah dan bersih-bersih kuburan.
“Selain berdoa, ruwah kubur ini jadi waktu yang tepat untuk mempererat persaudaraan, saling memaafkan, dan menjaga kekompakan warga,” kata Kades Keretak Ahmad Nurihsan pada reporter Abdurahman Harris.
Rangkaian ruwahan itu, dibarengi dengan tradisi Nganggung; membawa dulang berisi makanan, yang dibawa masyarakat setempat ke masjid Al Ihsan Desa Keretak. Isi dulang berupa makanan itu dimakan bersama, ikut serta para tamu undangan atau tetamu lainnya.

Masyarakat siapkan 5.000 dulang untuk gelar tradisi Nganggung; makan bersama di Desa Keretak Bangka Tengah, 31 Januari 2026 (Foto: RRI/Harris)
“Nganggung 5.000 dulang ini berasal dari seluruh warga yang ada di Desa Keretak,” ujar Eva Pratiwi, Panitia Perayaan Ruwah Kubur Desa Keretak ketika ditanya reporter RRI Sungailiat, Regina.
Suka cita dan rasa syukur menyambut datangnya bulan suci Ramadan tidak sebatas terfokus di masjid, tetapi juga di hampir setiap rumah. Tradisi lain adalah silaturahmi saling mengunjungi dari rumah ke rumah, dari itu mereka 'open house'. Siapapun tetamu disambut dengan suguhan pakan minum yang memang sudah dipersiapkan tuan rumah.
Ketika aneka kuliner lokal dan kekinian tersedia, logika nya tentu tersedia bukan karena sim salabin. Masyarakat menyediakan itu semua sudah dipastikan menggunakan biaya, apakah dibeli atau mengolahnya. Namun apapun itu, pastinya tiada uang tidaklah mungkin ada aneka makanan minuman.
Kemampuan masyarakat di dua desa itu, seakan menyimpan kekuatan ekonomi. Karena apapun sebutan perayaan akan bisa terlaksana bila didukung modal uang. Dalam hal ini, untuk pengadaan di perayaan itu ada perputaran ekonomi yang menjadi sumbangsih dari masyarakat untuk Kabupaten Bangka Tengah. Arti kata sebelum gelaran acara itu adanya aktivitas ekonomi seperti jual-beli, produksi, konsumsi yang terjadi dan beredar di daerah Bangka Tengah.
Sinyalemen itu menunjukan masyarakat rela belanja untuk perayaan ruwahan karena acara itu penting untuk suatu tradisi dan kebersamaan. Ketika harus nganggung untuk makan bersama juga sebagai bentuk syukur ruwahan, sebab bulan Ramadan segera tiba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....