Otodidak, Bangkitkan Kecerdasan Cari Solusi Sendiri

  • 30 Jan 2026 20:51 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungaliat - Seseorang sering kali mengembangkan kompetensi diri dengan melakukan otodidak atau belajar sendiri tanpa didampingi secara fisik oleh seorang guru. Literasi baca buku dan digital dijadikan media dalam otodidak.

Dari otodidak seseorang kerap kali mendapatkan pengetahuan dan bahkan mampu mengembangkan satu teori keilmuan, bahkan mungkin lebih. Hasil otodidak terkadang mencari cara sendiri dalam menemukan solusi dari suatu masalah, yang sebelumnya dianggap membingungkan.

"Ya, menangani suatu pekerjaan, solusinya seringkali didapat dari otodidak. Itu membuat saya puas. Teori kadang tak sama di lapangan, jadi ya sekitar 60 persen saya otodidak," kata Endra Septiaji A.Md., ASN RRI Sungailiat, Jumat, 30 Januari 2026.

Bagi Endra, literasi bukan sekadar pada buku atau platform-platform digital melainkan juga melalui indra dengar dan pengalaman. Lain dari itu mengembangkan komunikasi interpersonal dengan orang-orang yang sudah berpengalaman sesuai kompetensinya.

"Ini juga bagi saya mendukung dalam melaksanakan belajar sendiri," kata Endra.

Sinyalemen ini menunjukan, sejatinya teori-teori itu menuntun tahap demi tahap kepada praktik atau tindakan hingga terealisasi dalam suatu realitas aksi nyata. Satu teori bukan hanya untuk dihapal. Itu tidak cukup tetapi memahaminya dan menerapkan teori itu lebih penting daripada cuma ngapalin. Teori keilmuan biasanya butuh pemahaman mendalam dan praktik biar bisa dikuasai.

Tak dipungkiri, bahwa tak sedikit orang yang hapal teori tapi kosong dalam realitas. Sistem apapun tak butuh itu, sebaliknya sistem butuh kepatuhan dan orang-orang yang siap untuk diatur.

Dalam konteks dunia kerja, sekecil apapun pekerjaan yang akan dan sedang digelutinya, dipastikan ada aturan main, ada standar operasional prosedural dan sistem dalam menjalani setiap substansi pekerjaan. Unsur 'man' yang ada di dalamnya, sebagian besar tahu itu, namun sebagian lain tak peduli -emang gua pikirin.

"Kalau di teori perkuliahan belum banyak belajar yang menjurus ke siaran pak, jadi ini baru pertama kali ini. Terima kasih, teori-teori penyiaran yang sudah diberikan. Saya harus banyak belajar sendiri lagi," kata Rafa Jihan, mahasiswa dari Jakarta yang sudah menyelesaikan magang kerja di RRI Sungailiat, Senin, 26 Januari 2026.

Rafa Jihan Dwinus, ketika magang di RRI Sungailiat mencoba mengaktualisasikan teori ilmu komunikasi dalam dunia kerja broadcasting (Foto: RRI/Lang)

Sosok anak muda, mahasiswa Institut Al-Quran Jakarta itu mengakui selain bekal teori dari disiplin ilmunya juga perlu tambahan otodidak dan mampu membaca situasio terhadap substansi suatu pekerjaan.

Dari Otodidak, orang akan terkondisikan untuk berpikir dan mencari sendiri jawaban. Arti kata orang yang belajar otodidak akan mengembangkan kompetensi dirinya sendiri lewat bagaimana berpikir tentang sesuatu sehingga bisa menemukan sendiri jawabannya.

Premis yang saya dapatkan dari 30 tahun masa kerja sebagai ASN, siapapun yang belajar dengan otodidak biasanya akan lebih cerdas dalam menyikapi suatu masalah berikut solusi yang didapatkannya sendiri. Karena yang belajar otodidak lebih mengembangkan pola 'bagaimana berpikir' bukan sebatas 'apa yang dipikirkan'.

Begitupun dalam dunia kerja, karyawan memang dalam bekerja memiliki aturan yang pakem dan siapapun semestinya mengikuti itu. Namun seberapa banyak aturan atau SOP jika dalam pelaksanaannya tidak diikuti dengan kecerdasan, maka hanya akan menghasilkan kekosongan karya pada realitasnya.

Lain itu, bekerja dengan mengikuti arahan pimpinan itu memang lumrah, tapi bila harus selalu menunggu arahan maka hanya menjadikan kercerdasan yang lumpuh . Otodidak dibutuhkan disiplin, fokus dan motivasi agar kreativitas dan inovasi muncul tanpa 'learn dependency' ketergantungan belajar.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....