Kebaikan dan Keburukan Utang Piutang Menurut Ajaran Islam

  • 26 Jul 2026 16:53 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat – Utang piutang merupakan bagian dari kehidupan sosial yang diperbolehkan dalam Islam selama dilakukan dengan niat baik, penuh tanggung jawab, dan disertai komitmen untuk mengembalikannya.

Namun, di balik kemudahannya, utang juga dapat menjadi beban apabila tidak dikelola dengan bijak. Hal tersebut disampaikan Ustaz Syaiful Zuhri dalam Dialog Kajian Islam Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sungailiat.

"Utang dalam Islam adalah bentuk tolong-menolong yang dibolehkan. Namun, orang yang berutang harus memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk melunasi. Jangan sampai berutang hanya untuk menunda kewajiban atau menghindari tanggung jawab, karena setiap utang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat." Ujar Syaiful.

Ia menjelaskan, Utang harta atau utang materi memiliki jalan penyelesaian yang jelas. Selama seseorang memiliki iktikad baik, utang itu bisa dibayar, bahkan bisa dicicil sedikit demi sedikit hingga lunas. Allah melihat kesungguhan hamba-Nya dalam memenuhi amanah tersebut.

Dalam sesi interaktif, Jante dari Belitung Timur pendengar Pro 1 RRI Sungailiat menyampaikan pertanyaan , terkait utang harta atau utang materi masih bisa dibayar dan dicicil sampai lunas. Namun bagaimana cara terbaik membayar utang jika yang dimaksud adalah utang budi? Apalagi jika orang yang telah berjasa kepada kita sudah meninggal dunia.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustaz Syaiful Zuhri menuturkan Utang budi memang berbeda dengan utang materi. Tidak ada ukuran yang benar-benar bisa membalas semua kebaikan seseorang.

"Yang dapat kita lakukan adalah mengucapkan terima kasih, menjaga hubungan baik dengan keluarganya, meneruskan nilai-nilai kebaikan yang pernah diajarkan, dan membalasnya dengan amal saleh." Jelas Syaiful.

Ia menambahkan, Apabila orang yang berjasa itu telah meninggal dunia, maka balasan terbaik adalah mendoakannya, memohonkan ampun kepada Allah SWT, bersedekah atas namanya jika mampu, serta terus menebarkan kebaikan sebagai bentuk penghormatan. Walaupun utang budi mungkin tidak pernah lunas, Allah mengetahui niat baik dan rasa syukur seorang hamba."

Salah seorang pendengar, Rina di Sungailiat, mengaku tersentuh dengan penjelasan tersebut. Menurutnya, tausiah itu mengingatkan bahwa utang materi dapat diselesaikan dengan pembayaran, sedangkan utang budi dibalas melalui rasa syukur, doa, dan amal kebaikan yang terus mengalir sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....