Stunting Masih Jadi Tantangan di Simpang Renggiang

  • 05 Jun 2026 15:14 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung Timur - Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur masih menghadapi tantangan percepatan penurunan stunting. Data 19 Mei 2026 mencatat lima desa di wilayah itu punya prevalensi stunting di atas target kabupaten 15,38 persen.

Desa Renggiang tercatat sebagai desa dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni mencapai 24,53 persen. Angka tersebut disusul Desa Simpang Tiga sebesar 21,88 persen, Desa Aik Madu 20 persen, Desa Tanjung Batu Itam 19,10 persen, serta Desa Simpang Pesak 16,37 persen.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua TP PKK Kecamatan Simpang Renggiang Ayu Nilam Sahri menilai persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, tingkat pendidikan orang tua, serta keterlibatan keluarga dalam berbagai program kesehatan yang telah disediakan pemerintah.

Menurutnya, berbagai program pencegahan dan penanganan stunting sebenarnya telah berjalan melalui kerja sama antara pemerintah desa, puskesmas, kader posyandu, penyuluh keluarga berencana, dan TP PKK. Namun, efektivitas program tersebut perlu terus dievaluasi agar hasilnya lebih optimal.

"Kalau kami melihat, faktor pola asuh dan wawasan orang tua masih menjadi hal yang sangat penting. Program sudah banyak berjalan, tetapi yang perlu dilihat adalah seberapa efektif program itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah kegiatan selesai," ujar Ayu saat dihubungi melalui WhatsApp, Jum'at, 5 Juni 2026.

Ia menjelaskan, upaya pencegahan stunting telah dilakukan sejak sebelum masa kehamilan melalui pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, kelas calon pengantin, kelas ibu hamil, hingga edukasi pengasuhan anak melalui kelas parenting.

Menurutnya, pencegahan harus menjadi fokus utama karena stunting dapat dicegah sejak dini melalui peningkatan pengetahuan calon orang tua mengenai kesehatan, gizi, dan pola pengasuhan anak.

"Kami lebih menekankan pencegahan. Mulai dari remaja putri, calon pengantin, kelas ibu hamil sampai kelas parenting. Pengetahuan tentang gizi, pemberian ASI eksklusif, dan pola asuh yang baik harus diberikan sejak awal," katanya.

Selain itu, TP PKK juga mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk mendukung kebutuhan gizi keluarga. Program tersebut mengajak masyarakat, khususnya ibu hamil, menanam sayuran dan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bergizi.

Wakil Bupati Belitung Timur sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) , Khairil Anwar menyatakan bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari perangkat daerah, kecamatan, puskesmas, PLKB, pemerintah desa hingga Tim Pendamping Keluarga.

“Kecamatan harus aktif sebagai koordinator wilayah, puskesmas memperkuat layanan kesehatan dan gizi, sementara PLKB dan Tim Pendamping Keluarga melakukan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga sasaran secara berkelanjutan,” ujar Khairil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....