Arus Digital Jadi Tantangan Pengamalan Nilai Pancasila
- 02 Jun 2026 00:49 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat — Derasnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan akademisi Derry Nodianto saat menjadi narasumber dialog interaktif memperingati Hari Lahir Pancasila di Pro 1 RRI Sungailiat, Senin 1 Juni 2026.
Menurut Deri, tantangan yang paling terlihat saat ini adalah menguatnya sikap individualisme dan semakin lunturnya nilai kebersamaan atau gotong royong. Banyak aktivitas sosial yang kini lebih banyak diukur berdasarkan untung dan rugi pribadi dibanding kepentingan bersama.
Selain itu, media sosial juga memudahkan penyebaran informasi yang belum tentu benar. Hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi berpotensi memecah persatuan apabila tidak disikapi secara bijak.
" Jadi generasi muda saat ini hidup di era yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, pendekatan pendidikan Pancasila juga harus menyesuaikan perkembangan teknologi dan karakter generasi digital," ujarnya.
Deri menjelaskan bahwa pendidikan Pancasila tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan, tetapi juga harus menyentuh aspek sikap dan keterampilan. Kolaborasi tiga pilar pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun karakter kebangsaan.
Menurutnya, orang tua memiliki peran strategis sebagai sekolah pertama bagi anak-anak. Keteladanan yang diberikan di rumah akan menjadi fondasi utama dalam membentuk sikap dan perilaku generasi muda.
“Anak-anak saat ini tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga melihat apa yang kita lakukan. Karena itu orang dewasa harus menjadi role model dalam mengamalkan nilai-nilaiPancasila,” katanya.
Pendengar Puji dari Desa Deniang menilai tantangan pengamalan Pancasila saat ini tidak hanya berasal dari perkembangan teknologi, tetapi juga kurangnya keteladanan dari generasi sebelumnya.
| Baca juga: Bidan Kunci Sehat Ibu Hamil dan Anak |
Menurutnya, nilai-nilai Pancasila pernah berjalan cukup baik pada masa lalu meskipun belum terdapat lembaga khusus seperti saat ini. Karena itu, pengalaman sejarah seharusnya menjadi pelajaran berharga dalam membangun karakter generasi muda.
Ia berpendapat bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Jika orang tua mampu menjadi contoh yang baik, maka anak-anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
"Teknologi bukan masalah utama. Yang penting bagaimana orang tua dan lingkungan memberikan contoh yang baik kepada generasi muda," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....