Emotional Neglect Tinggalkan Luka Psikologis hingga Dewasa
- 22 Mei 2026 13:10 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Luka masa kecil tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik ataupun bentakan. Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai emotional neglect atau pengabaian emosional, yakni ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi secara konsisten oleh orang tua maupun lingkungan terdekat. Anak mungkin tetap mendapatkan fasilitas dan perhatian secara materi, namun minim dukungan emosional, validasi perasaan, maupun komunikasi yang hangat di dalam keluarga.
Disampaikan oleh psikolog klinis anak, remaja, dan dewasa, Desta Israwanda dalam dialog interaktif program Dear Psikolog Pro 1 RRI Sungailiat. Ia menjelaskan bahwa pengabaian emosional sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai pola pengasuhan biasa yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
"Banyak orang tua merasa selama anak makan, sekolah, dan kebutuhan fisiknya terpenuhi maka semuanya baik-baik saja. Padahal anak juga punya kebutuhan emosional yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Menurut Desta, anak yang tumbuh dengan kebutuhan emosional yang kurang terpenuhi dapat mengalami attachment wounds atau luka keterikatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan hingga dewasa, mulai dari kesulitan memahami emosi, rendah diri, sulit percaya kepada orang lain, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat. Ia menilai luka emosional sering muncul secara perlahan dan tidak selalu terlihat secara langsung.
Interaksi pendengar melalui WA juga mewarnai dialog. Diko dari Pemali menyampaikan bahwa pola pengasuhan saat ini menghadapi tantangan berbeda dibanding masa lalu karena kehadiran telepon genggam dan media digital.
"Cara mendidik zaman sekarang berbeda dengan waktu kita kecil dulu. Sekarang orang tua dan anak sama-sama terpengaruh tontonan serta informasi parenting dari HP, jadi kadang pola mendidiknya tidak sejalan,” ungkapnya melalui by WA interaktif.
Menanggapi hal itu, Desta mengatakan perkembangan teknologi memang membawa tantangan baru dalam pola pengasuhan keluarga.
"Sekarang informasi parenting sangat banyak dan mudah diakses. Namun tidak semua pola pengasuhan cocok diterapkan di setiap keluarga karena kondisi anak dan lingkungan berbeda-beda,” katanya.
Ia menambahkan, orang tua sebaiknya tidak terpaku membandingkan pola asuh masa lalu dengan tren parenting di media sosial.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan gawai tidak sepenuhnya harus dihindari karena sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup modern. Namun, orang tua tetap perlu membangun kedekatan emosional secara langsung dengan anak.
"Anak tetap membutuhkan kehadiran emosional orang tua, didengarkan ceritanya, diperhatikan tanpa distraksi gawai, dan diberi ruang untuk menyampaikan perasaannya,” ujar Desta.
Melalui dialog Dear Psikolog, masyarakat diajak memahami pentingnya membangun hubungan emosional yang sehat di dalam keluarga. Dengan komunikasi yang hangat, pola asuh yang seimbang, serta pendampingan yang konsisten di era digital, diharapkan anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik hingga dewasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....