Jadikan Ka’bah Kiblat Hati dalam Kehidupan Sehari-hari
- 13 Mei 2026 06:04 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Ka’bah bukan sekadar bangunan suci yang menjadi arah salat umat Islam, melainkan simbol pusat penghambaan dan persatuan umat muslim di seluruh dunia. Hal tersebut disampaikan Ustaz H. Syaiful Zuhri dalam Dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sungailiat, Rabu pagi, 13 Mei 2026 dengan tema Jadikan Ka’bah Kiblat Hatimu.
Dalam penjelasannya, Ka’bah disebut sebagai tempat perputaran ibadah umat Islam, mulai dari salat hingga ibadah haji dan tawaf yang dilakukan mengelilingi Baitullah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Swt.
Makna menjadikan Ka’bah sebagai kiblat hati tidak hanya sebatas menghadap arah kiblat ketika salat, tetapi juga menempatkan Allah sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Hati seorang muslim diarahkan untuk selalu dekat dengan nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketaatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam dialog tersebut dijelaskan Ka’bah menjadi lambang persatuan umat Islam tanpa membedakan suku, bangsa, maupun status sosial. Jutaan umat muslim dari berbagai negara datang ke Tanah Suci dengan tujuan yang sama, mengenakan pakaian ihram yang sederhana dan berdiri sejajar sebagai bentuk persamaan di hadapan Allah Swt.
“Ka’bah mengajarkan bahwa manusia harus memiliki tujuan hidup yang jelas, yakni kembali kepada Allah. Ketika hati sudah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, maka setiap tindakan akan lebih terarah dan penuh ketenangan,” ungkap Ustaz H. Syaiful Zuhri.
Dialog mendapatkan respon dari pendengar melalui sambungan telepon. Salah satu pendengar, Ahmad di Cokro Sungailiat, menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Ka’bah dan menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah meskipun berada jauh dari Tanah Suci.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Syaiful menjelaskan rasa cinta kepada Ka’bah dapat tumbuh melalui ibadah yang dilakukan secara istiqamah, memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, serta memahami sejarah dan kemuliaan Baitullah. Kerinduan kepada Ka’bah juga dapat dipelihara melalui doa dan niat yang tulus untuk suatu saat dapat beribadah di Tanah Suci.
“Meski belum berada di depan Ka’bah, hati tetap bisa dekat dengan Allah. Kedekatan itu dibangun melalui zikir, menjaga akhlak, memperbaiki ibadah, dan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan,” jelas Ustaz H. Syaiful Zuhri.
Dialog Mutiara Pagi ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak hanya menjadikan Ka’bah sebagai kiblat dalam ibadah secara fisik, tetapi juga sebagai arah hati dan pedoman hidup dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....