Sekolah Alam Aqila Terapkan Konsep 3B untuk Pemetaan Bakat Siswa
- 17 Apr 2026 13:06 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Belitung – Sekolah Alam Aqila Belitong menerapkan konsep 3B sebagai metode untuk membantu menemukan sekaligus menumbuhkan bakat dan minat peserta didik sejak usia dini. Konsep ini dilakukan melalui pemberian pengalaman belajar yang beragam, melibatkan banyak orang, serta dilakukan secara berulang agar anak benar-benar merasakan proses pembelajaran.
Kepala Sekolah Alam Aqila Belitong, Novita Freshka Uktolseja mengatakan, konsep 3B merupakan bagian dari metode Transmapping atau pemetaan bakat anak yang dicetuskan oleh Abah Rama.
"Jadi 3B itu merupakan konsep dari Transmapping, yaitu pemetaan bakat anak. Pada dasarnya anak-anak perlu diberikan prinsip 3B, yaitu Bertemu Banyak Orang, Beragam Kegiatan, dan dilakukan secara Berulang-ulang," kata Novita saat menjadi narasumber di RRI Belitung, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, konsep tersebut diterapkan dengan memberikan berbagai pengalaman kepada siswa melalui kegiatan yang beragam, kemudian diarahkan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Seluruh kegiatan itu juga dilakukan secara rutin dan berulang agar anak dapat memahami prosesnya secara mendalam.
Novita mencontohkan kegiatan menanam yang dilakukan berulang sejak jenjang TK hingga SD, sehingga anak terbiasa mengenal proses bercocok tanam sejak kecil. Hal serupa juga diterapkan pada kegiatan camping yang rutin dilakukan setiap tahun.
Dengan metode tersebut, pihak sekolah menilai anak akan memperoleh pengalaman yang cukup sehingga kecenderungan minat dan bakatnya akan mulai terlihat seiring waktu.
"Dengan cara seperti itu, perlahan-lahan akan terlihat kecenderungan minat dan bakatnya. Nantinya akan muncul, oh ternyata minatnya di olahraga, di Bahasa Inggris, atau di seni," ujarnya.
Ia menambahkan, tanpa pengenalan terhadap berbagai aktivitas, sekolah maupun orang tua akan kesulitan mengetahui potensi terbaik yang dimiliki anak. Novita juga menegaskan pentingnya kesabaran dalam mendampingi tumbuh kembang anak, karena kemampuan anak tidak bisa dinilai secara instan.
Ia menceritakan pengalaman salah satu orang tua yang sempat merasa anaknya tidak menonjol dalam matematika maupun olahraga. Namun setelah anak tersebut duduk di kelas 5, kemampuannya mulai terlihat dan berkembang pesat, bahkan berhasil mengikuti kegiatan badminton hingga tingkat Provinsi.
"Jangan cepat menilai, karena anak butuh waktu untuk berkembang. Kita tidak bisa membesarkan anak secara instan, harus pelan-pelan," katanya.
Sementara itu, salah seorang warga Tanjungpandan, Dudi menilai penerapan konsep 3B sangat penting untuk membantu anak menemukan jati diri dan potensi yang dimilikinya sejak dini.
Menurutnya, anak-anak saat ini perlu lebih banyak pengalaman di luar kegiatan akademik agar kemampuan mereka bisa berkembang secara menyeluruh.
"Metode seperti ini sangat penting, karena anak-anak itu sebenarnya punya potensi yang berbeda-beda. Kalau cuma fokus di pelajaran saja, kadang bakat mereka tidak kelihatan. Tapi kalau diberi banyak kegiatan, mereka bisa menemukan apa yang mereka suka dan kuasai," ujarnya.
Ia juga menilai konsep bertemu banyak orang dapat membangun mental dan keberanian anak dalam berinteraksi di lingkungan sosial.
"Anak-anak jadi lebih percaya diri, tidak takut bicara, dan lebih berani mencoba hal baru. Ini bagus untuk bekal mereka ke depan," katanya.
Melalui penerapan konsep 3B, Novita berharap siswa dapat menemukan potensi dirinya secara alami melalui pengalaman yang terus diasah. Dengan demikian, bakat dan minat anak akan muncul serta terlihat dengan sendirinya seiring proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....