Warga Rebu Sambut Imlek Penuh Kebersamaan

  • 11 Feb 2026 21:06 WIB
  •  Sungailiat

RRI.GO.ID, Sungailiat - Masyarakat Tionghoa di Kelurahan Rebu, Sungailiat, menyambut Tahun Baru Imlek dengan penuh suka cita. Sejak sepekan terakhir, suasana kawasan tersebut sudah dipenuhi warna merah dan ornamen khas Imlek. Lampion menghiasi teras rumah, sementara ucapan gong xi fa cai terpampang di pintu-pintu warga. Persiapan dilakukan dengan semangat kebersamaan, mulai dari membersihkan rumah hingga menyiapkan hidangan khas untuk malam pergantian tahun.

Menurut Ce Mitha, warga Rebu Sungailiat, tradisi bersih-bersih rumah atau yang dikenal sebagai tat ce menjadi salah satu ritual penting menjelang Imlek. 

“Kami biasanya sudah mulai bersih-bersih rumah beberapa hari sebelumnya. Semua sudut dibersihkan supaya menyambut tahun baru dengan hati dan rumah yang bersih,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini dipercaya sebagai simbol membuang kesialan dan membuka pintu rezeki di tahun yang baru.

Selain membersihkan rumah, warga juga mulai berbelanja kebutuhan sembahyang dan bahan makanan. Kue keranjang, manisan, buah jeruk, serta aneka hidangan khas seperti ayam rebus, ikan, dan mi panjang umur menjadi sajian wajib. Ce Mitha mengatakan, malam Imlek adalah momen paling dinanti karena seluruh anggota keluarga akan berkumpul.

“Biasanya anak-anak yang merantau pulang. Kami makan malam bersama, itu yang paling hangat rasanya,” katanya.

Tradisi makan malam bersama atau reunion dinner menjadi inti perayaan malam Imlek. Keluarga besar duduk satu meja, saling berbagi cerita dan doa untuk tahun yang akan datang. Setelah makan malam, sebagian keluarga melanjutkan dengan sembahyang kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Suasana hening dan khidmat terasa saat doa-doa dipanjatkan.

Hal senada disampaikan Ce Yen, warga Sigambir, yang juga memiliki kebiasaan serupa. Ia menuturkan bahwa malam Imlek selalu menjadi momen sakral bagi keluarganya.

“Walaupun sibuk bekerja, malam Imlek wajib kumpul. Tidak boleh ada yang absen kalau tidak ada halangan besar,” ujarnya. 

Menurutnya, kebersamaan keluarga jauh lebih penting daripada kemewahan perayaan. Pada hari H Imlek, warga biasanya mengenakan pakaian bernuansa merah atau warna cerah lainnya sebagai simbol keberuntungan. Anak-anak dengan penuh semangat menerima angpao dari orang tua dan kerabat. Selain itu, silaturahmi antar keluarga dan tetangga juga dilakukan, mempererat hubungan yang sudah terjalin sejak lama.

Perayaan Imlek di Desa Rebu dan sekitarnya tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga momentum memperkuat nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Baik Ce Mitha maupun Ce Yen sepakat bahwa inti dari perayaan Imlek bukan sekadar perayaan meriah, melainkan rasa syukur, harapan baru, dan kebahagiaan saat bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....