Remaja Terjebak Bank Emok, Alarm Sosial Menguat

  • 07 Feb 2026 23:52 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID,Sungailiat - Fenomena keterlibatan anak remaja dalam jeratan bank emok atau rentenir keliling kian menjadi perhatian. Kemudahan akses pinjaman, gaya hidup instan, hingga tekanan sosial disebut menjadi faktor utama yang membuat anak muda rentan terjebak dalam lingkaran utang sejak usia dini.

 

Psikolog Wahyu Kurniawan, M.Psi., menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak berdiri sendiri. Menurutnya, pola pikir anak-anak hari ini secara tidak langsung “terdesain” untuk serba cepat dan instan. “Karena kebutuhan mendesak dan kebiasaan jalan pintas, anak-anak hari ini ingin semuanya segera terpenuhi,” ujarnya.

 

Ia menuturkan, berbeda dengan masa lalu ketika akses pinjaman sangat terbatas, saat ini anak-anak dengan mudah menjangkau berbagai fasilitas pinjaman. Mulai dari pinjaman online, aplikasi keuangan, hingga bank emok atau bank keliling yang hadir langsung di lingkungan mereka. Aksesibilitas inilah yang membuat pinjaman terasa wajar dan mudah dilakukan.

 

Wahyu juga menyoroti adanya fenomena instant gratification, yakni kecenderungan anak muda untuk ingin cepat puas dan segera mendapatkan apa yang diinginkan. Kondisi ini membuat mereka terhipnotis oleh kemudahan pinjaman. Jika dahulu anak bisa menahan diri atau meminta bantuan keluarga, kini pinjaman menjadi pilihan pertama.

 

Faktor lain yang turut memperparah situasi adalah gaya hidup hedonisme dan FOMO (fear of missing out). Anak-anak ingin diakui, dilihat mampu, dan tidak tertinggal dari lingkaran pertemanan. “Validasi eksternal ini kuat sekali. Mereka ingin terlihat punya, padahal kemampuan finansialnya terbatas,” Ungkap Wahyu.

 

Akibatnya, pinjaman mulai dinormalisasi. Ada anggapan, jika menginginkan sesuatu maka solusi tercepat adalah berutang. Padahal, di balik itu tersimpan risiko besar, mulai dari bunga berlipat, penagihan yang menekan, hingga konflik dengan rentenir yang berdampak pada kondisi psikologis anak.

 

Rendahnya literasi keuangan juga menjadi celah besar. Wahyu menilai, banyak remaja belum memahami risiko pinjaman, baik dari sisi hukum maupun kesehatan mental. Ia bahkan menyebut sudah ada kasus anak mengalami stres berat, depresi, hingga konflik keluarga akibat jeratan pinjaman online dan bank emok.

 

Suara keprihatinan juga datang dari pendengar RRI di Bangka Selatan. Salah seorang pendengar, Lina dari Sungailiat, pernah mendengar remaja di lingkungannya terjerat utang. “Anak-anak sekarang gampang sekali pinjam uang, tapi bingung saat ditagih. Orang tua baru tahu setelah masalahnya besar,” ujarnya.

 

Melihat kondisi tersebut, Wahyu mengimbau pemerintah dan semua pihak untuk memperkuat edukasi literasi keuangan serta membatasi praktik pinjaman instan yang mudah diakses remaja. Ia menegaskan, pencegahan sejak dini sangat penting agar anak-anak tidak terjerumus lebih jauh dalam dampak sosial dan psikologis yang berbahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....