Sadranan, Tradisi Jawa Lestari Jelang Bulan Ramadan

  • 04 Feb 2026 22:10 WIB
  •  Sungailiat

RRI. CO. ID,  Sungailiat - Tradisi Sadranan atau Nyadran masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa hingga saat ini. Tradisi yang biasanya dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama dan membawa hidangan sebagai simbol rasa syukur.

Sadranan umumnya dilakukan di area pemakaman leluhur atau tempat yang dianggap sakral. Warga datang beramai-ramai sambil membawa makanan dari rumah masing-masing. Hidangan tersebut kemudian didoakan bersama sebelum disantap secara bersama-sama, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

Tradisi ini juga dibahas dalam acara Campur Sari Pro 4, yang diasuh oleh Mbak Tri menghadirkan berbagai tanggapan dari pendengar, termasuk para perantau asal Jawa. Salah satunya adalah Mbah Tri dari Sri Menanti, perantau asal Jawa yang kini tinggal di Sungailiat. Ia mengaku sangat merindukan suasana Nyadran yang pernah ia ikuti semasa tinggal di Jawa.

Mbah Tri mengatakan bahwa meski kini berada jauh dari tanah kelahiran, kenangan tentang tradisi Nyadran masih sangat melekat.

“Waktu masih di Jawa, saya sering ikut Nyadran. Jadi sampai sekarang masih bisa membayangkan seperti apa suasananya, ramai, hangat, dan penuh kebersamaan,” ujarnya dalam siaran tersebut.

Pendengar lainnya, Iing Kampung Jawa Sungailiat, juga turut memberikan tanggapan. Ia menilai tradisi Sadranan masih cukup lestari hingga kini, terutama di daerah pedesaan. Menurutnya, Nyadran hampir selalu dilaksanakan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk persiapan batin sebelum memasuki bulan penuh ibadah.

Iing juga membandingkan tradisi tersebut dengan kebiasaan di daerah lain. Ia menyebutkan bahwa jika di tempatnya masyarakat membawa makanan menggunakan dulang, maka di Jawa wadah yang digunakan biasanya berupa anyaman bambu.

“Kalau di Jawa itu kayak wadah dari bambu, besek an bulat gitu,” jelasnya.

Melalui berbagai cerita dan tanggapan pemdemgar, tradisi Sadranan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga kenangan emosional bagi masyarakat Jawa, termasuk mereka yang kini merantau. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan leluhur, alam, dan sesama, sekaligus menegaskan kekayaan budaya lokal yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....