Warga Belitung Suarakan Pentingnya Keberadaan Lahan Basah
- 02 Feb 2026 19:44 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID: Tanjungpandan -Setiap tanggal 2 Februari, dunia memperingati Hari Lahan Basah Sedunia sebagai momentum refleksi atas pentingnya menjaga ekosistem perairan bagi keberlangsungan hidup manusia. Peringatan tahun 2026 ini kembali menyoroti sejarah panjang komitmen global yang dimulai sejak 1971 di Kota Ramsar, Iran.
Dalam sesi interaktif di RRI Belitung hari ini, Senin (2/Februari/2026), sejumlah masyarakat turut menyuarakan urgensi pelestarian lahan basah yang menjadi kekayaan alam di Negeri Laskar Pelangi.
Anto, salah satu pendengar setia RRI, dalam opininya menekankan bahwa lahan basah bukan sekadar "tanah berair", melainkan benteng pertahanan pesisir.
"Kita di Belitung ini dikelilingi mangrove dan daerah rawa. Jika ini rusak, bukan hanya ikan yang hilang, tapi ancaman rob akan makin nyata. Peringatan hari ini harus jadi aksi nyata, bukan sekadar seremonial," ujar Anto.
Senada dengan hal tersebut, Heti, pendengar lainnya, menyoroti pentingnya edukasi bagi generasi muda.
"Sejarahnya kan sudah ada sejak 1997 secara resmi diperingati. Menurut saya, aksi bersih-bersih lahan basah atau lomba seni anak-anak bertema alam seperti yang sering dilaporkan ke Konvensi Ramsar perlu lebih masif dilakukan di sekolah-sekolah di Belitung agar anak cucu kita paham manfaatnya," tambah Heti.
Merujuk pada catatan sejarah yang dikutip melalui laman Wikipedia, tanggal 2 Februari dipilih untuk memperingati penandatanganan Konvensi Ramsar di pantai Laut Kaspia pada tahun 1971. Meskipun konvensinya lahir pada tahun 70-an, Hari Lahan Basah Sedunia baru mulai dirayakan secara global pada tahun 1997.
Sejak saat itu, lembaga pemerintah hingga kelompok masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, rutin melakukan berbagai aksi seperti seminar, lintas alam, balap sampan, hingga aksi bersih (clean-up day). Data menunjukkan bahwa lebih dari 95 negara telah berkontribusi aktif dalam meningkatkan kesadaran akan nilai manfaat lahan basah sebagai penyaring air alami dan penyerap karbon.
"Harusnya dengan semangat peringatan tahun 2026 ini, kesadaran kolektif masyarakat Belitung semakin kuat untuk menjaga eksistensi lahan basah demi masa depan lingkungan yang lebih sehat", tutup Heti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....