74 Tahun Wafatnya Jenderal Soedirman: Meneladani Sang Pejuang
- 29 Jan 2026 13:09 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID: Tanjungpandan – Bangsa Indonesia hari ini mengenang wafatnya Jenderal Besar Soedirman, Panglima Besar TNI pertama yang menjadi simbol keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan. Meski raganya telah tiada sejak 29 Januari 1950, semangat perjuangan sang jenderal tetap hidup di sanubari masyarakat, termasuk di Negeri Laskar Pelangi.
Berdasarkam catatan biografinya, Jenderal Soedirman adalah pahlawan yang lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916. Mengawali karier sebagai guru di Muhammadiyah, ia kemudian bergabung dengan Peta (Pembela Tanah Air) dan membuktikan kepemimpinannya dalam Perang Palagan Ambarawa. Puncak dedikasinya terlihat saat ia memimpin perang gerilya selama tujuh bulan dalam kondisi sakit paru-paru demi melawan Agresi Militer II Belanda.
Perjalanan sang jendral ini membawa kesan mendalam bagi warga. Yacuba, seorang pendengar setia RRI Belitung, dalam sesi interaktif via telp. Kamis (29/Januari/2026), mengungkapkan bahwa sosok Soedirman adalah bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berbakti pada negara.
"Beliau adalah cermin keikhlasan. Bayangkan, dalam kondisi sakit TBC, beliau tetap masuk hutan memimpin pasukan. Kita yang sekarang menikmati kemerdekaan secara utuh harus malu jika tidak memberikan yang terbaik untuk bangsa," ujar Yacuba
Hal senada disampaikan oleh Desi, warga Tanjungpandan. Bagi Desi, sejarah hidup Soedirman yang pernah menjadi guru dan pembina Hisbul Wathan menunjukkan pentingnya karakter sejak dini.
"Jenderal Soedirman sangat disegani karena integritasnya. Dari seorang guru menjadi panglima besar adalah perjalanan luar biasa. Kita harus meneladani ketangguhannya dalam menjaga kedaulatan Indonesia di tengah situasi politik yang tidak stabil kala itu," tutur Desi.
Dari catatan sejarah Bangsa Indonesia, akhir Perjalanan Sang Panglima Jenderal Besar Soedirman wafat di Magelang pada usia yang sangat muda, 34 tahun, akibat penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta. Sudah seharusnya, peringatan hari wafatnya ini menjadi momentum bagi segenap bangsa Indonesia untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan sebagaimana perjuangan tulus yang telah diwariskan sang Jenderal Besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....