Jepang dan Kegagalan Berulang di Fase Gugur Piala Dunia

  • 01 Jul 2026 15:18 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Jepang dipastikan gagal melangkah jauh di Piala Dunia 2026, yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dalam babak 32 besar, Jepang menyerah 1-2 dari Brasil,

Kegagalan itu mengulang sejarah Jepang sejak debut pada 1998. Jepang selalu tersingkir di babak gugur atau gagal dari fase grup.

Jepang pada piala dunia tahun ini, berangkat dengan keyakinan tinggi, karena banyak mengalahkan tim besar. Jerman, Brasil, Inggris, pernah dikalahkan Jepang sebelum berkompetisi di Piala Dunia 2026. Pada babak terakhir kualifikasi di piala dunia, Jepang juga menjadi pemuncak klasemen dengan raihan 23 poin, dan menjadi salah satu tim tercepat yang memastikan tempat di Piala Dunia 2026.

"Jepang memang terkenal dengan permainnya yang militan," kata Ahmad Suherman, Ketua Badan Liga Sepakbola Bangka Belitung, dan juga pengamat sepakbola, dalam program 'Deeptalk Bola : Peta Kekuatan 32 Besar Piala Dunia 2026', Minggu, 28 Juni 2026 di Pro1 RRI Sungailiat.

Namun jika ditarik kebelakang sejak partisipasi perdana mereka di Piala Dunia, Jepang tidak pernah menang di babak gugur, bahkan pernah tidak lolos fase grup. Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, Jepang tersingkir di fase grup, dengan raihan nol poin. Kemudian pada Piala Dunia 2002 yang berlangsung di negerinya sendiri bersama Korea, Jepang yang diperkuat bintang mulai dari Hidetoshi Nakata hingga Shinji Ono, kalah dari Turki pada babak 16 besar.

Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, hasil yang diraih Jepang bahkan tidak lebih baik dari 2002. Jepang yang satu grup dengan Australia, Brasil, dan Kroasia hanya mampu meraih 1 poin dan tersingkir cepat. Selanjutnya pada Piala Dunia 2010, Jepang yang diperkuat dengan bintang baru mereka, Keisuke Honda, kembali merasakan babak gugur, namun akhirnya dipulangkan Paraguay melalui adu penalti.

Empat tahun berselang atau pada 2014, Jepang kembali menatap kompetisi di Brasil dengan status juara Piala Asia 2011, dan dipimpin oleh pelatih asal Italia, Alberto Zaccheroni. Namun hasil yang diraih justru kembali mengecewakan, dengan hanya meraih 1 poin dan gagal meraih kemenangan. Tim samurai biru lagi lagi harus pulang lebih cepat karena tersingkir di fase grup.

Kenangan menyakitkan bagi Jepang terjadi Piala Dunia 2018 di Rusia. Ketika itu Jepang berhasil lolos dari fase grup dengan hasil 4 poin, dan harus bertemu dengan Belgia yang terkenal dengan generasi emasnya. Jepang sempat unggul hingga 2-0, namun keadaan berbalik ketika di ujung babak kedua, gol Nacer Chadli mengubur impian mereka untuk maju ke babak depalan besar, dan menjadikan skor 3-2.

Piala Dunia 2022 yang kembali ke tanah Asia, tepatnya di negeri Qatar, ternyata juga tidak mampu membawa rekor baru kepada timnas Jepang. Ketika itu Jepang telah diperkuat bintang seperti Kaoru Mitoma hingga Takumi Minamino, dan sempat mengalahkan Jerman dan Spanyol di fase grup. Namun penampilan Jepang justru antiklimaks ketika menghadapi Kroasia di babak gugur. Jepang kalah adu penalti 1-3, meski sempat unggul di babak pertama melalui gol Daizen Maeda.

Serangkaian kekalahan yang dialami Jepang sejak pertama kali merasakan piala dunia, mengisyarakat masih banyak yang perlu diperbaiki. Salah satu yang dinilai perlu diperbaiki adalah mental pemain, ketika menghadapi lawan dengan skuad kelas dunia.

"Untuk menembus delapan besar dibutuhkan lebih dari sekadar kualitas permainan. Faktor pengalaman, kedalaman skuad, dan mental saat menghadapi pertandingan hidup-mati, serta kemampuan memanfaatkan peluang di laga gugur sangat menentukan," kata Alam, penggemar sepakbola di Bangka Belitung.

Kiprah Timnas Jepang di laga Piala Dunia dapat kembali disaksikan pada Piala Dunia 2030 mendatang, yang berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko, jika berhasil lolos babak kualifikasi. Publik menantikan perkembangan Timnas Jepang, yang telah menyiapkan visi seratus tahun, dengan target menjadi juara Piala Dunia 2050.

"Jika mampu meningkatkan konsistensi dan ketenangan pada fase gugur, peluang untuk menembus perempat final di masa mendatang masih sangat terbuka," kata Alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....