Fenomena 'War Kursi Kapal' Siapa Cepat Dia Dapat

  • 08 Apr 2024 11:25 WIB
  •  Sungailiat

KBRN, Mentok; Aba-aba masuk dari petugas pintu masuk Dak kapal itu terdengar jelas, serta merta para penumpang pun berebut masuk ke dalam sal-sal penumpang di dalam kapal, hingga harus berlari mempercepat langkahnya untuk sampai ke dalam.

Mereka seakan lega mendengar suara aba-aba masuk itu, dari sekian waktu lama antre sejak pembelian tiket sampai menunggu masuk ke dalam kapal. Begitulah dinamika sekaligus gimik-gimik perilaku para pemudik kelas ekonomi yang menggunakan jasa angkutan kapal penyebrangan Fery. Fenomena itu teramati penulis saat mudik dengan kapal di Tanjungkalian Muntok menuju Palembang.

Bagi penulis dari catatan pengalaman mudik lewat jalur penyebrangan adalah sikap gigih dan kemauan keras untuk mengikuti segala pernak-pernik di kapal, mulai dari pemesanan tiket kelas ekonomi, uji sabar menunggu waktu keberangkatan, hingga berebut masuk sal penumpang ke dalam kapal.

Para pemudik menunggu aba-aba masuk ke dalam kapal

Hal yang tak bisa dilupakan adalah upaya setiap penumpang yang berebut masuk ke sal penumpang dalam kapal. Hal itu terjadi dari tahun ke tahun pada setiap perjalanan mudik di kapal. Dari sini lah kemudian memunculkan bahasa gaul "war kursi" alias berebut kursi di dalam sal. Nah, siapa yang cepat, dia yang dapat, maka dipastikan dia pun akan nyaman hingga sampai ke tujuan di Tanjung Api-Api Palembang.

War kursi kapal seakan tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat sesaat akan pulang kampung dengan menggunakan transportasi laut, seperti kapal. Sebelum keberangkatan, biasanya mereka berebutan kursi di dalam kapal. Momen ini kadang seakan sebuah pertaruhan, karena hanya dua pilihan; dapat kursi senang, tak dapat kursi jadi meriang alias merana.

Mudik yang dilalui dengan war kursi kapal kadang menyimpan keceriaan dalam kebersamaan sesama antarpenumpang saat melakukan perjalanan pulang kampung. Pada momen ini, para pemudik rela berdesak-desakan mencari kursi di kapal yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman. Namun fenomena ini, mungkin sedikit membuat bingung bagi yang baru kali pertama mudik dengan kapal.

"Baru pertama kali mudik naik kapal saya kebingungan kok pada lari semua ketika mau masuk kapal, saya jadi ikutan lari juga, ternyata harus rebutan kursi lagi di dalam kapal supaya bisa dapat tempat duduk nyaman." kata Sandi yang mengaku kali pertama mudik dengan kapal menuju Palembang.

Nyaman mendapatkan kursi, beberapa orang terlihat sibuk menghubungi keluarga untuk memberitahu bahwa mereka sudah berada di kapal dan segera akan berangkat. Meskipun situasi di kapal cukup ramai dan sesak, para pemudik tetap bersabar dan bertoleransi satu sama lain.

Mereka pun nampak sebagian saling membantu jika ada yang membutuhkan bantuan, seperti membantu mengangkat barang bawaan atau berbagi tempat duduk kepada orang tua atau ibu hamil.

Para pemudik merasakan kebersamaan dan kekompakan di antara mereka, meskipun baru saja bertemu. Mereka merasa senang bisa pulang ke kampung halaman bersama-sama, menikmati perjalanan dengan senang hati dan rasa syukur.

"Ternyata mudik ramai- ramai naik kapal bisa hemat dan seru juga buat anak perantauan ini " ucap Sandi.

Gumam Sandi itu lirih terdengar, sambil merebahkan diri di kursi penumpang, hasil dari war kursi kapal tadi. Tak urung pula kegalauan penulis sebelumnya, sirna terjawab dengan duduk merebahkan diri hingga sampai waktu yang dituju.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....