Ragam Olahan Ayam Spesial Natal Ala Pendengar
- 25 Des 2025 15:05 WIB
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat: Perayaan Natal di Bangka identik dengan kehangatan kumpul keluarga dan deretan hidangan khas yang menggugah selera. Dalam acara "Pemakan Nusantara" yang berlangsung Kamis (25/12/2025), dua pendengar berbagi cerita tentang menu ayam ikonik yang menjadi primadona di meja makan mereka saat Natal.
Cristo, Mahasiswa yang sedang Natal di Bangka, menyebutkan Ayam Kodok sebagai sajian wajib keluarganya. Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan sebuah tradisi yang diwariskan oleh Belanda dan terinspirasi dari teknik memasak ala Perancis, yaitu ballotine dan galantin.
Meski namanya unik, Cristo menegaskan bahwa bahan bakunya murni ayam, bukan kodok. Penamaan tersebut merujuk pada bentuk fisik ayam yang melebar setelah melalui proses pengolahan yang rumit.
"Daging ayam dikeluarkan dari kulitnya tanpa boleh robek, lalu dicincang halus bersama bumbu dan telur. Setelah itu, adonan dimasukkan kembali ke dalam kulit hingga membentuk ayam utuh lagi sebelum akhirnya dipanggang," ujar Cristo. Kerumitan proses inilah yang membuat Ayam Kodok dianggap sebagai hidangan kasta tertinggi yang melambangkan kemewahan di momen Natal.
Lain hal dengan Andre, pendengar asal Sulawesi, menyebutkan bahwa Natal tidak akan lengkap tanpa kehadiran Ayam Rica-Rica. Berbeda dengan Ayam Kodok yang gurih lembut, Ayam Rica-Rica menawarkan ledakan rasa pedas yang segar.
"Rica dalam bahasa Manado berarti cabai. Ini menu wajib saat kumpul keluarga. Ayam dimasak dengan bumbu rempah melimpah yang memberikan rasa pedas yang khas," ujar Andre.
Untuk melengkapi kelezatannya, Andre menyarankan agar Ayam Rica-Rica disantap dengan nasi putih hangat. Namun, bagi masyarakat Sulawesi Utara, ada cara yang lebih otentik, yakni mencocol bumbu pedasnya dengan Nasi Jaha beras ketan beraroma jahe yang dimasak di dalam bambu.
Kehadiran Ayam Kodok dan Ayam Rica-Rica menunjukkan betapa kayanya akulturasi budaya dalam perayaan Natal di Indonesia. Satu sisi menampilkan pengaruh sejarah kolonial, sementara di sisi lain memperlihatkan kekayaan rempah asli nusantara.
Kedua hidangan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi leluhur yang terus dijaga di setiap suapannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....