Kue Jungkong, Kuliner Tradisional yang Tak Surut Penggemarnya
- 03 Nov 2025 11:18 WIB
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat: Masyarakat Bangka Belitung mengenal kue jungkong sebagai kuliner tradisional. Kue ini bisa ditemui bersama kuliner khas lainnya di lapak penjual kue khas daerah atau kue ala kampung.
Kue jungkong biasa dikonsumsi oleh penggemarnya sebagai camilan pagi, siang, atau sore bahkan malam hari. Kue ini juga kerap disajikan pada acara-acara istimewa seperti pernikahan, khitanan, dan upacara adat.
Para penggemar mengenal kue jongkong ini terbuat dari tepung beras ketan, gula kelapa, santan, dan sedikit garam. Dari bahan-bahan itu menjadi adonan dan dibuat dengan cara dikukus hingga matang. Kue jungkong bercita rasa manis karena di dalamnya dicampur dengan gula aren.
“Kue jungkong ini lembut banget, rasanya manis tapi nggak bikin enek. Waktu dimakan, aroma santannya langsung terasa,” ujar Ismi, dalam program “Pemakan Nusantara” di RRI Pro4 edisi Senin (3/11/2025),
Sementara itu pendengar lainnya Endro mengatakan tentang kebiasaan mengonsumsi kue jungkong. Kue ini umumnya bila dikonsumsi dalam satu keluarga bukan hanya soal rasa, melainkan terbesit ada unsur kebersamaan apalagi saat gelar acara warga kampung.
“Biasanya kalau ada acara keluarga atau kampung, orang-orang bikin kue jungkong bareng. Jadi bukan cuma makanannya yang nikmat, tapi juga suasana gotong royongnya,” tutur Endro.
Dari bahan-bahan adonan, umumnya penggemar meyakini kue jungkong mengandung nutrisi yang relatif bermanfaat. Beras ketan memberikan energi karena tinggi karbohidrat, sementara gula, santan kelapa mengandung mineral seperti kalium dan zat besi.
Santan menambah cita rasa gurih sekaligus menyumbang lemak sehat bila dikonsumsi dalam jumlah wajar. Dengan cita rasa yang lembut dan aroma khas santan, kue jungkong sering disebut mirip dengan bubur sumsum. Kombinasi rasa manis dan gurihnya membuat kue ini cocok dinikmati kapan saja, baik sebagai hidangan penutup maupun teman minum teh sore hari.
Kue jungkong bukan sekadar makanan tradisional, melainkan cermin kebersamaan dalam cara mengonsumsi dan kebersamaan dalam pembuatannya terutama jika ada acara pesta kampung. Hingga kini, tradisi membuat kue ini bersama-sama masih dilestarikan, menjadi bagian dari kekayaan kuliner dan budaya Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....