DKPPKB: Stunting Berisiko Ganggu Kecerdasan Anak
- 09 Jul 2026 08:24 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Bangka Selatan – Survei Kesehatan Indonesia mencatat prevalensi stunting di Kabupaten Bangka Selatan 20,7% pada 2023. Sementara, Survei Status Gizi Indonesia mencatat 24,6% pada 2024. Kenaikan ini memicu kekhawatiran karena stunting berdampak pada kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.
Untuk menekan angka tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) menggelar program "Pergerakan Cegah Stunting" di halaman Kantor Kelurahan Teladan, Toboali, Rabu, 8 Juli 2026.
Kepala DKPPKB Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa mengatakan, upaya perbaikan gizi masyarakat diamanatkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
"Ini bertujuan meningkatkan mutu gizi melalui perbaikan pola konsumsi, perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses pelayanan gizi," kata dr. Agus.
Ia menyebut, kondisi saat ini menunjukkan percepatan penurunan stunting masih menjadi tantangan yang butuh kerja sama semua pihak.
Petugas Posyandu Toboali, Yunita menegaskan stunting bukan sekadar soal tinggi badan.
"Stunting adalah masalah pertumbuhan dan perkembangan. Anak stunting berisiko mengalami hambatan kognitif, gangguan kesehatan, serta penurunan produktivitas saat dewasa," tegasnya.
Karena itu, Yunita mengajak pencegahan stunting dilakukan bersama. "Mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....