Quarter Life Crisis Jadi Fase Wajar Proses Pendewasaan

  • 14 Jun 2026 00:48 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Quarter life crisis menjadi fenomena yang banyak dialami generasi muda saat memasuki usia dewasa awal.
  • Kondisi ini tidak selalu berdampak negatif karena dapat menjadi ruang bagi seseorang mengenal dirinya sendiri.
  • teori perkembangan psikososial Erik Erikson menyebut masa dewasa awal memang menjadi fase pencarian dan penyesuaian diri serta menjadi hal yang wajar selama tidak berlarut dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

RRI.CO.ID, Sungailiat - Quarter life crisis menjadi fenomena yang banyak dialami generasi muda saat memasuki usia dewasa awal. Fase ini ditandai dengan munculnya kebingungan mengenai identitas diri, tujuan hidup, karir, hingga masa depan.

Demisioner Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Psikologi Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Jeshicca Wulan Nari dalam dialog Sore Ceria Pro 2 RRI Sungailiat mengatakan, quarter life crisis umumnya dialami individu berusia 18 hingga 30 tahun. Ia juga mengatakan kondisi ini tidak selalu berdampak negatif karena dapat menjadi ruang bagi seseorang mengenal dirinya sendiri

"Quarter life crisis itu sebenarnya fase krisis emosional ketika seseorang mulai mempertanyakan identitas dirinya, tujuan hidupnya, relasinya, sampa karirnya. Ini bukan sesuatu yang negatif, justru bisa menjadi ruang untuk mengenal diri lebih dalam," katanya pada Kamis, 11 Juni 2026.

Lebih lanjut, Jeshicca mengatakan dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson menyebut masa dewasa awal memang menjadi fase pencarian dan penyesuaian diri. Selain itu, kebingungan maupun kecemasan terhadap masa depan merupakan hal yang wajar selama tidak berlarut dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Jeshicca juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain karena setiap individu memiliki timeline dan proses yang berbeda.

Sementara itu, salah satu pendengar, Irene mengatakan pernah mengalami quarter life crisis saat mulai memikirkan masa depan dan pencapaian. Ia juga mengatakan kondisi seperti ini dapat dihadapi dengan fokus pada pengembangan diri.

"Sempat ngalamin quarter life crisis. Caraku bangkit dari quarter life crisis kalau aku sendiri sibuk memperbaiki diri, ningkatin value diri, harus tahu juga tujuan kita di masa depan apa dan pastinya berusaha melawan rasa malas," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....