Aktivitas Tambang Diduga Berkontribusi pada Lonjakan 104 Kasus Malaria di Bangka
- 04 Jun 2026 15:40 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Aktivitas pertambangan diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus malaria di Kabupaten Bangka. Hingga 3 Juni 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka mencatat sebanyak 104 kasus malaria, meningkat drastis dibandingkan tahun 2025 yang hanya terdapat dua kasus.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Anggia Murni, mengatakan lonjakan kasus yang mencapai ratusan kali lipat tersebut membuat pemerintah daerah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria.
“Kita harus melakukan upaya mengendalikan vektornya. Tantangan terbesar kita, tempat – tempat pentambangan. Karena sangat terkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh vector, atau penyakit tular vector namanya,” kata Anggia, Kamis, 4 Juni 2026.
Dijelaskan Anggia, vector memiliki tempat yang cocok untuk berkembang biak, mengingat aktivitas pertambangan yang terjadi di Bangka ini meninggalkan kolong, dimana menjadi tempat terbaik bagi perkembangbiakan nyamuk.
“Kalau penggalian penambangan yang baik, di gali, ditutup kembali, maka kita aman, ini menganga, dimana para penambang menggali tanah, ada air yang kemudian tidak ditinggalkan begitu,” ucapnya.
Menurut Anggia, berdasarkan hasil pemantauan dan pemetaan kasus yang dilakukan petugas kesehatan, sebagian besar penderita memiliki keterkaitan dengan aktivitas di kawasan pertambangan yang berpotensi menjadi habitat nyamuk penular malaria.
Ia menjelaskan, para pekerja tambang beraktivitas sejak pagi hingga sore hari di lokasi yang rentan terhadap perkembangbiakan nyamuk. Setelah selesai bekerja, mereka kembali ke rumah masing-masing sehingga berpotensi membawa parasit malaria ke lingkungan tempat tinggalnya.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Kesehatan bersama puskesmas melakukan pemetaan wilayah terdampak, penemuan kasus secara aktif, serta memastikan seluruh pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas.
Selain itu, petugas juga melakukan penyemprotan atau fogging di rumah warga yang ditemukan kasus malaria beserta lingkungan sekitarnya. Tindakan pengendalian vektor juga dilakukan dengan memeriksa keberadaan jentik nyamuk dan melakukan insektisasi pada lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka juga mengimbau masyarakat, terutama yang bekerja di sektor pertambangan, untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan perlindungan diri dari gigitan nyamuk serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, menggigil, sakit kepala, dan lemas.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, perusahaan, dan masyarakat, diharapkan penyebaran malaria di Kabupaten Bangka dapat segera dikendalikan sehingga jumlah kasus tidak terus bertambah.
“Kita telah melakukan penutupan sementara aktivitas di kawasan tambang Batu Atap, untuk mencegah terjadinya penularan kasus malaria,” kata Plt. Kepala Satpol PP Bangka Achmad Suherman.
Pihaknya terus melakukan pemantauan, membantu melakukan screening, penemuan kasus malaria di masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....