Babel Tingkatkan Kewaspadaan Dini Virus PPR dan Nipah

  • 29 Jan 2026 13:43 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melakukan upaya pencegahan dini risiko masuk dan tersebarnya penyakit Peste des Petits Ruminants (PPR) dan Penyakit Nipah (NiV) di Babel.

Upaya dan langkah dilakukan oleh Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Babel melalui forum berbagi pengetahuan pertemuan khususnya terkait ancaman penyakit Nipah dan PPR yang berkembang di dunia di Kantor BKHIT Babel, Kamis 29 Januari 2026.

Kepala Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan Bangka Belitung, Herwintarti mengatakan, pihaknya dari Badan Karantina Indonesia, bersama lintas sektor seperti Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina Kesehatan, serta pemerintah daerah berkomitmen untuk bersatu padu dalam menyatukan persepsi dan langkah melalui forum berbagi pengetahuan pada pertemuan tersebut.

“Provinsi Kepulauan Bangka Belitung siap melakukan kewaspadaan dini dengan memberikan informasi edukatif kepada masyarakat terkait upaya pencegahan penyakit Nipah dan PPR,” kata Herwintarti.

Selain itu, pengawasan bersama akan dilakukan di wilayah perbatasan melalui sistem terintegrasi di seluruh pintu masuk, baik pelabuhan udara, laut, penyeberangan, maupun pos lainnya di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, pengawasan diperketat dengan penerapan biosekuriti untuk memastikan ancaman virus PPR dan Nipah tidak menyebar ke populasi peternakan maupun membahayakan kesehatan masyarakat.

“Edukasi berkelanjutan akan terus diberikan oleh Badan Karantina Indonesia, Karantina Kesehatan, serta pemerintah daerah. Diharapkan masyarakat Bangka Belitung dapat beraktivitas dengan aman dan tenang, terlebih menjelang perayaan hari raya keagamaan yang berlangsung beriringan,” ujarnya.

BKHIT bekomitmen dalam memperlancar distribusi pangan, baik dari dalam maupun luar daerah, dengan menjamin kesehatan dan kualitas pangan serta pakan agar aman dikonsumsi masyarakat.

“Terkait lalu lintas ternak, saat ini cukup signifikan karena konsumsi protein hewani di Bangka Belitung yang rutin, baik dari ruminansia besar, ruminansia kecil, maupun distribusi ternak babi,” katanya.

Kepala Balai Karantina Kesehatan Kelas II Pangkalpinang Agus Syah Fiqhi Haerullah mengatakan, virus Nipah ini ditularkan oleh hewan kelelawar pemakan buah-buahan yang kemudian jatuh dan dimakan oleh ternak. Ternak tersebut kemudian dikonsumsi oleh manusia yang memasaknya secara tidak higienis atau tidak matang, yang berpotensi menyebarkan penyakit.

“Penyakit Nipah belum masuk ke Indonesia. Meskipun ada kasus yang dicurigai, namun tidak terbukti bahwa penyakit ini sudah menjangkiti Indonesia,” kata Agus.

Menurut dia, pihak berwenang bekerja sama dengan karantina hewan dan tumbuhan, imigrasi, serta bea cukai di titik-titik masuk (point of entry), baik di pelabuhan maupun bandara sudah melakukan pengetatan.

“Kementerian Kesehatan melalui Karantina Kesehatan menyiapkan alat pemindai suhu (scanner) untuk mendeteksi apakah pelancong dari luar negeri atau pelabuhan lain mengalami demam. Kewaspadaan ekstra diterapkan bagi individu yang memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit (seperti India) dalam 21 hari terakhir,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....