Empat Tanda Orang Bahagia Menurut Nabi Muhammad
- 18 Jun 2024 09:59 WIB
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat : RRI pro4 Sungailiat dalam program acara KUPIA (Komunikasi Perkara Iman dan Takwa) menghadirkan ustaz Arfiandi sebagai narasumber, di mana ustaz Arfiandi mengangkat topik tentang; 4 Tanda Orang Bahagia Menurut Nabi Muhammad saw., pada hari Selasa,(18/6/2024).
Ustaz Arfiandi mengatakan bahwa tanda pertama orang yang bahagia menurut Nabi Muhammad adalah orang yang selalu mengingat kesalahan yang telah ia perbuat. Karena manusia akan selalu berbuat kesalahan, baik sengaja ataupun tidak disengaja.
"Dengan kita bermuhasabah diri perbuatan buruk kita di masa lalu tidak perlu diulangi lagi di masa yang akan datang. Maka dengan muhasabah, hari esok kita akan lebih baik, di dunia juga di akhirat, Insyaallah."ujar ustaz Arfiandi
Ustaz Arfiandi menjelaskan tanda kedua orang yang berbahagia menurut Nabi Muhammad adalah orang yang selalu melupakan kebaikannya. Dalam ajarannya, islam justru menganjurkan muslim/muslimah untuk melupakan kebaikan yang pernah dilakukannya.
Dikhawatirkan, orang yang mengungkit kebaikan yang pernah dilakukannya akan menimbulkan rasa ingin dipuji sebagai orang yang dermawan, baik hati, dan suka menolong pada orang tersebut. Padahal, kebaikan itu seharusnya dilakukan atas dasar semata-mata karena Allah SWT saja.
"Sementara tanda orang bahagia yang ketiga adalah dalam urusan dunia hendaklah dia selalu melihat orang yang ada di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan ekonominya jauh di bawah kita," ucap ustaz Arfiandi.
Terakhir, tanda orang yang bahagia menurut Nabi Muhammad adalah jika dalam urusan akhirat lihatlah ke atas, maknanya adalah kita harus melihat orang yang lebih rajin dan taat dalam urusan akhirat. Karena orang yang rajin ibadah akan dilancarkan urusan dunia dan akhiratnya. Dan orang-orang yang seperti itulah yang patut kita tiru dan kita contoh.
"Misalnya, kita lihat ada orang yang rajin bersedekah. Kita harus iri dan mengikutinya untuk rajin bersedekah, bukan berarti ria, atau tidak ikhlas tapi semua diniatkan karena Allah, sebagai amal pengantar kita mendekat dengan Allah Swt. Selanjutnya, tirulah orang yang rajin salat malam atau tahajud. Karena orang yang rajin tahajud akan mendapatkan cahaya dan segala kemudahan dari Allah Swt. Berlomba-lombalah dalam kebaikan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tenang, damai dan lebih baik," kata ustaz Arfiandi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....