Camp Ceria Batu Belubang Tanamkan Nilai Persatuan pada Generasi Muda
- 17 Jun 2026 20:04 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Basel - Workshop Keberagaman Budaya dan Camp Ceria yang digelar mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung menanamkan nilai persatuan pada generasi muda di Desa Batu Belubang, Kecamatan Pangkalan Baru.
Mengusung tema “Kampung Kita, Cerita Kita”, kegiatan diikuti siswa-siswi SD Negeri 10 Pangkalan Baru. Melalui berbagai aktivitas edukatif dan permainan interaktif, peserta diajak memahami pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman suku, budaya, dan bahasa yang ada di Indonesia.
Ketua Pelaksana, Hendri Agustian, mengatakan konsep belajar sambil bermain dipilih agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
“Kami ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Melalui kegiatan ini, mereka diajak memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk berteman, bekerja sama, dan hidup berdampingan dengan harmonis,” ujarnya dalam rilis yang diterima RRI, Minggu, 14 Juni 2026.
Menurut Hendri, kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan tentang keberagaman budaya, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter anak sejak usia dini agar lebih terbuka, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai persatuan.
Melalui Camp Ceria ini, mahasiswa KPI IAIN SAS Babel berharap nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kebersamaan dapat terus tumbuh dalam diri anak-anak sebagai generasi penerus yang akan menjaga keutuhan bangsa di masa depan.
Sementara Kepala Desa Batu Belubang, Ahirman, mengapresiasi inisiatif mahasiswa IAIN SAS Babel yang menghadirkan kegiatan edukatif bagi anak-anak di desanya. Ia menilai pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal penting bagi generasi penerus bangsa.
“Kegiatan seperti ini sangat positif. Anak-anak belajar menghargai sesama dan memahami bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan guru SD Negeri 10 Pangkalan Baru, Rumansa. Menurutnya, pembelajaran di luar kelas memberikan pengalaman baru yang lebih menarik bagi peserta didik.
“Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan melalui berbagai kegiatan yang mereka ikuti,” ucapnya.
Dalam workshop, materi keberagaman budaya disampaikan oleh Anja Kusuma Atmaja. Ia menjelaskan kekayaan budaya Indonesia serta pentingnya menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk suku Melayu dan Bugis, diajak memahami bahwa perbedaan merupakan anugerah yang harus dirawat dan dijaga bersama demi terciptanya kehidupan yang harmonis. (Rilis Mahasiswa IAIN Babel)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....