Bangka tengah Luncurkan Gerakan "WAR 13 T"
- 21 Mei 2026 20:12 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Bangka Tengah - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah (Pemkab Bateng) meluncurkan sebuah gerakan edukasi yang diberi nama Gerakan WAR 13 T (Wajib Belajar 13 Tahun). Peresmian dilakukan Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman di Ruang Rapat Besar Kantor Bupati, Kamis, 21 Mei 2026.
Dikatakan Bupati Algafry, Gerakan WAR 13 T ini dimaksudkan untuk menyukseskan wajib belajar 13 tahun, sekaligus menekan angka putus sekolah di Bangka Tengah.
"Ini adalah tugas kita bersama. Kita perlu kembali merapikan benang-benang yang mulai kusut, menegakkan kembali yang belum berjalan sebagaimana mestinya secara bersama-sama, serta menyatukan berbagai upaya yang masih berserakan agar program Wajib Belajar 13 Tahun di Bangka Tengah dapat berjalan sukses,” kata Algafry.
Algafry juga memaparkan faktor penyebab anak putus sekolah di Bangka Tengah sangat kompleks. "Selain faktor ekonomi, kondisi geografis dan pola mata pencaharian masyarakat, seperti nelayan yang sering berpindah tempat tinggal mengikuti musim tangkap menjadi tantangan tersendiri karena anak-anak sering kali ikut diboyong dan akhirnya berhenti sekolah," ungkap Algafry.
Untuk memperkuat gerakan ini, Dinas Pendidikan Bangka Tengah meluncurkan aplikasi website SI PINTAR (Sistem Pantauan Internal Anak Usia Pra Sekolah). Inovasi teknologi ini berfungsi untuk memetakan dan memantau secara presisi anak-anak usia dini di setiap desa yang belum terdaftar di PAUD.
Langkah integrasi sistem ini bahkan mendapat apresiasi tinggi dari Ombudsman Babel, yang menyebut Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah sebagai pelopor di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menerapkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) atau PPDB yang terintegrasi dan akuntabel.
| Baca juga: Ratusan Santri Sahabat Qur'an Koba Diwisuda |
Wahyu Kurniawan, akademisi Psikologi Islam dari IAIN SAS Babel sekaligus perwakilan Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia Wilayah Babel, memberikan catatan psikologis yang mendalam mengenai alasan anak enggan bersekolah.
"Anak-anak dari kecil jangan dijejali dengan calistung (baca, tulis, hitung) secara paksa. Hal itu mengakibatkan anak mengalami stres sejak dini. Secara struktur otak, anak usia dini itu alangkah baiknya bermain. Ketika kreativitas otak tidak dibangun dan anak dipaksa les atau calistung berat, mereka akan bosan saat memasuki jenjang SMP," jelasnya.
Wahyu juga menambahkan, risetnya pada tahun 2023 mengenai fatherless dan motherless menunjukkan bahwa akar masalah anak tidak mau sekolah umumnya bukan bersumber dari si anak, melainkan dari kerapuhan komunikasi dan budaya di dalam keluarga. (Rilis)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....