PARAS TANI CILIK Kenalkan Bercocok Tanam dan Cinta Lingkungan sejak Dini

  • 12 Agt 2026 17:57 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung Timur – Program PARAS TANI CILIK (Peduli Alam dan Sayang Tani Cilik) menjadi inovasi pembelajaran berbasis lingkungan yang mengenalkan kegiatan bercocok tanam kepada anak usia dini di TK/PAUD.

Inovator Paras Tani Cilik, Nining Nurihani mengatakan melalui program ini, peserta didik kelompok A dan B diajak terlibat langsung dalam kegiatan menanam, merawat hingga memanen tanaman. Kegiatan dilaksanakan satu kali dalam sepekan, setiap Jumat selama 30 hingga 45 menit dan diintegrasikan dengan tema pembelajaran.

"PARAS TANI CILIK tidak hanya mengenalkan dunia pertanian kepada anak, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter positif, seperti disiplin, tanggung jawab, kesabaran, kerja sama dan rasa syukur," ujar Nining, Rabu, 12 Agustus 2026.

Dalam pelaksanaannya, anak menggunakan lahan sederhana berupa bedengan kecil, polybag, pot bekas maupun sistem vertikultur. Tanaman yang dipilih antara lain kangkung, bayam, cabai, tomat, singkong dan ubi jalar yang relatif mudah dibudidayakan.

"Dari sisi pembelajaran, kegiatan bercocok tanam membantu anak mengenal siklus hidup tanaman, mulai dari proses menanam, kebutuhan tanaman untuk tumbuh, hingga panen. Aktivitas menyiram, mencangkul dan memanen juga melatih kemampuan motorik halus maupun kasar," ujarnya.

Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Beltim, Grace menambahkan program ini turut mendorong pola hidup sehat dengan mengenalkan sayuran melalui pengalaman langsung. Anak yang sebelumnya kurang menyukai sayur didorong untuk berani mencoba hasil tanaman yang mereka rawat sendiri.

"Hasil pelaksanaan menunjukkan sebanyak 85 persen anak menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Anak juga mampu menyebutkan delapan jenis tanaman, bagian-bagian tanaman serta kebutuhan dasar tanaman untuk tumbuh," ujarnya.

Melalui PARAS TANI CILIK, pembelajaran diharapkan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada anak untuk mengenal alam, menghargai proses pertumbuhan pangan dan memanfaatkan lingkungan sekitar dengan bahan-bahan sederhana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....