Pemkab Bangka Dorong Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Kompos untuk Lahan Kriti

  • 05 Jun 2026 14:59 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Pemerintah Kabupaten Bangka mendorong pengelolaan sampah produktif lewat pemanfaatan sampah organik jadi pupuk kompos. Langkah ini dinilai mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan kesuburan tanah, terutama lahan kritis dan bekas tambang untuk pertanian.

Wakil Bupati Bangka Syahbudin mengatakan, upaya pemanfaatan limbah dan sampah organik sebenarnya telah dilakukan, namun ke depan perlu lebih difokuskan agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

“Kita sudah ada pemanfaatan limbah, cuma belum fokus. Ke depan harus lebih fokus lagi, karena sampah itu sebetulnya bisa dijadikan kompos yang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama petani untuk menjaga kesuburan tanah,” kata Syahbudin, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurutnya, kebutuhan pupuk kompos akan semakin meningkat seiring upaya pengembangan sektor pertanian di lahan-lahan kritis, termasuk kawasan bekas aktivitas pertambangan yang membutuhkan perbaikan kualitas tanah sebelum ditanami.

“Terlebih di lahan bekas tambang, untuk pengembangan pertanian di lahan kritis sangat membutuhkan kompos. Jadi pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos ini memiliki nilai manfaat yang besar,” ujarnya.

Syahbudin menilai pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat menjadi solusi ganda, yakni mengurangi persoalan sampah sekaligus menyediakan pupuk organik yang ramah lingkungan bagi petani.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya juga telah menggunakan pupuk kompos untuk mendukung kegiatan perkebunan yang dikelolanya. Pengalaman tersebut semakin meyakinkannya bahwa kompos mampu membantu menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.

“Saya sendiri sudah menggunakan pupuk kompos untuk perkebunan. Hasilnya cukup baik untuk membantu menjaga kesuburan tanah,” kata wabup.

Selain bermanfaat bagi lingkungan, pengembangan kompos juga memiliki nilai ekonomi. Saat ini harga pupuk kompos di pasaran mencapai sekitar Rp30 ribu per karung dengan berat 20 kilogram.

Dengan potensi tersebut, Pemkab Bangka berharap pengelolaan sampah organik dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, kelompok tani, dan pelaku usaha, sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang bernilai dan mampu mendukung rehabilitasi lahan kritis serta ketahanan pangan daerah.

“Pupuk kompos tentulah menjadi pilihan utama bagi petani untuk mengembangkan produksi pertaniannya, sekarang di kampung itu sudah banyak yang memproduksi sendiri, dari kotoran ternak,” ujar Penyuluh Pertanian Darman Suriah.

Dia berharap, tidak hanya dari kotoran hewan, pupuk kompos juga bisa dikelola dari sampah organik, yang harus dipilah terlebih dahulu untuk menjadi pupuk organik atau kompos.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....