Aset Wisata Religi, Aula Billiton City Club Direvitalisasi

  • 30 Apr 2026 12:00 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung - Aula pertemuan dan altar Gedung Billiton City Club di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung akan direvitalisasi. Di dalam gedung tersebut terdapat tepekong atau tempat ibadah umat Konghucu yang selama ini menjadi bagian dari bangunan bersejarah itu.

Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat mengatakan, kondisi gedung saat ini sudah mengalami kerusakan cukup parah, seperti bocor dan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

"Oh iya, ini kan bangunan sejarah. Di sana itu ada tepekong, kepercayaan dari saudara kita. Dan kita lihat bangunannya kan sudah sedemikian rupa, bocor, dan memang tidak berfungsi," kata Djoni, Kamis (30/4/2026).

Bupati saat memukul tembok bangunan yang akan dilakukan revitalisasi (Foto: Arif/RRI)

Ia menyebut revitalisasi ini didukung oleh donatur dari masyarakat Belitung yang berada di perantauan, yang memiliki ikatan emosional kuat terhadap bangunan tersebut.

"Jadi pada hari ini adalah hari dimulai revitalisasi dengan donatur dari saudara kita yang ada di perantauan, yang juga memiliki histori, memiliki emosi yang luar biasa, yang terketuk hatinya untuk mendonatur merevitalisasi Gedung Timah ini," ujarnya.

Menurut Djoni, revitalisasi akan dilakukan dengan perbaikan menyeluruh, mulai dari atap, plafon, lampu, hingga pengecatan agar tampilan gedung kembali estetis dan nyaman dikunjungi masyarakat.

Djoni menambahkan, setelah rampung gedung ini akan kembali dibuka untuk umum dan berpotensi menjadi destinasi wisata religi di Belitung.

"Dibuka lagi nanti untuk umum. Bahkan nanti ini bisa kita jadikan salah satu destinasi nanti para wisata. Wisata religi," katanya.

Rombongan saat melihat proses revitalisasi (Foto: Arif/RRI)

Sementara itu, donatur revitalisasi gedung, Alex Lo, mengaku terpanggil untuk ikut memperbaiki aset budaya yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Belitung.

"Saya kan putra Belitung asli. Walaupun saya di perantauan, tapi tidak lupa dengan kampung. Jadi gedung tepekong kita juga di sini, tempat ini bersejarah," kata Alex.

Ia menegaskan revitalisasi dilakukan bukan hanya untuk tepekong, tetapi untuk keseluruhan bangunan sebagai satu kesatuan aset budaya.

"Nah, gedung ini secara keseluruhan adalah aset budaya. Jadi kita hanya terpanggil sebagai inisiator saja, tidak ada salahnya," ujarnya.

Alex mengatakan pengerjaan revitalisasi diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan, dengan konsep tetap mempertahankan bentuk asli bangunan.

"Kembali ke aslinya, tidak kita ubah-ubah. Ini barang-barang bersejarah ya, jadi kita tidak boleh mengubah dari konsep awal. Hanya diperbaiki yang rusak," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....