Filateli di Era Modern: Antara Tradisi dan Teknologi
- 29 Mar 2025 05:25 WIB
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat : Filateli, merupakan hobi mengumpulkan perangko, diperingati setiap tanggal 29 Maret sebagai “Hari Filateli” untuk menghargai dan merayakan dunia filateli, yakni hobi mengumpulkan perangko.
Hal ini sudah ada sejak abad ke-19 dan berkembang pesat seiring dengan munculnya perangko pertama di dunia, Penny Black, yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1840. Sejarah filateli sendiri dimulai pada pertengahan abad ke-1800-an. Istilah filateli berasal dari bahasa Prancis philatélie yang diciptakan oleh Georges Herpin pada tahun 1864.
Awalnya, filateli hanya dikenal di kalangan kolektor tertentu, namun seiring berjalannya waktu, hobi ini menjadi semakin populer dan berkembang menjadi sebuah seni yang dihargai. Meskipun demikian, di era digital sekarang ini, filateli menghadapi tantangan besar, terutama dengan semakin banyaknya hiburan modern yang menggantikan minat terhadap benda-benda fisik seperti perangko.
Kris, seorang warga Sungailiat dulunya sempat mengikuti tren ini di era 90-an , menjelaskan bahwa dulu untuk mengumpulkan perangko sangat antusias dengan media berkirim surat kepada teman terutama teman yang berada diluar negeri.
"Kalau dulu ngumpulin perangko itu semacam keasyikan tersendiri, bagi kami di era 90-an dimana perangko menjadi media untuk saling berkirim kabar biasanya untuk mendapatkan balasan kita menyelipkan perangko balasan, apalagi jika dari luar negeri”, ujar Kris.
Menurutnya perangko bukan hanya sekadar benda kecil, tapi juga merupakan jendela sejarah. Setiap perangko menceritakan kisahnya sendiri
Namun, di sisi lain, Parni, yang juga sempat menggemari filateli, merasa bahwa era modern dengan segala kemudahan teknologi justru bisa membuat orang muda kurang tertarik pada hobi ini.
"Sekarang semua bisa didapat dengan mudah melalui internet, sehingga tidak ada lagi sensasi mencari perangko di pasar loak atau melalui tukar-menukar dengan sesama kolektor, dulu seni mengumpulkan perangko itu menarik, kalau sekarang sudah jarang juga kita berkirim surat, mungkin di negara lain untuk berkirim surat tetap dilakukan, koleksi saya saja sudah tidak ada lagi karena hobi tidak diteruskan," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa meskipun banyak aplikasi digital yang menawarkan koleksi perangko secara virtual, sensasi fisik dari mengumpulkan perangko asli tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Meskipun demikian, para kolektor filateli terus berusaha mengadaptasi diri dengan perubahan zaman. Banyak yang kini memanfaatkan e-commerce dan media sosial untuk memasarkan koleksi mereka, bahkan mengadakan pameran virtual untuk menarik minat generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dunia semakin digital, filateli masih bisa bertahan jika mampu berinovasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....