Refleksi Hari Film Nasional: Sinergi Tradisi dan Digitalisasi

  • 30 Mar 2026 14:42 WIB
  •  Sungailiat
RRI.CO.ID, Tanjungpandan - Peringatan Hari Film Nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret menjadi momentum refleksi bagi para pelaku dan penikmat sinema di tanah air.

Dalam sesi interaktif radio bersama RRI Belitung hari ini, Senin (30/Maret/2026), perkembangan industri perfilman nasional menjadi topik hangat yang dibahas bersama dua pendengar, Bili dan Ferdian, yang bergabung melalui sambungan telepon.

Bili menekankan bahwa kualitas film Indonesia saat ini telah mengalami lompatan besar, baik dari segi teknis maupun penceritaan. Menurutnya, film lokal kini bukan lagi sekadar pelengkap di bioskop sendiri, melainkan tuan rumah yang disegani.

"Kita harus bangga karena saat ini film nasional sudah berani bereksplorasi di luar genre horor dan drama romantis. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana distribusi film bisa merata hingga ke daerah, agar tidak terjadi ketimpangan akses menonton," ujar Bili dalam pernyataannya.

Senada dengan hal tersebut, Ferdian menyoroti adaptasi industri terhadap platform streaming digital yang semakin menjamur. Ia melihat fenomena ini sebagai pedang bermata dua bagi kreativitas sineas.

"Perkembangan teknologi membuat film kita semakin mudah diakses dunia, tapi di sisi lain, kita punya tugas berat menjaga identitas budaya agar tidak larut dalam selera pasar global yang seragam. Film nasional harus tetap punya 'jiwa' Indonesia," tegas Ferdian.

Napak Tilas Sejarah 30 Maret

Peringatan Hari Film Nasional sendiri memiliki akar sejarah yang kuat. Tanggal ini dipilih berdasarkan hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) pada tahun 1950. Film karya sutradara Usmar Ismail tersebut dianggap sebagai film pertama yang benar-benar diproduksi oleh perusahaan Indonesia (Perfini) dan disutradarai oleh orang Indonesia asli.

Penetapan secara resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie. Sejak saat itu, 30 Maret menjadi simbol kebangkitan kreativitas dan kedaulatan budaya melalui layar lebar.

Sesi interaktif bersama RRI Belitung ini ditutup dengan harapan agar sineas muda, khususnya dari daerah seperti Belitung, terus berani berkarya dan membawa narasi lokal ke tingkat nasional maupun internasional.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....