Jauhi Sifat 'Anguak Anggak' di Lingkungan Multikultur
- 18 Apr 2025 18:36 WIB
- Sungailiat
KBRN, Sungailiat : Program Etnis Minang Maimbau bersama Uda Boy menghadirkan kearifan lokal yang tak lekang dimakan zaman. Kali ini, pepatah "Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan" menjadi topik utama, mengupas sifat tertutup dan ketidakterus-terangan yang sayangnya masih mewarnai interaksi antar manusia.
Uda Boy, dengan kehangatan khasnya, mengajak pendengar untuk merenungkan makna pepatah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sambutan interaktif hadir, menghubungkan studio dengan berbagai kisah dan pandangan. Salah satu cerita yang cukup menarik datang dari Riko Darmawan, seorang pendengar setia asal Padang yang telah lima tahun beradaptasi dengan kehidupan bertetangga di Bangka.
Bagi Riko, pepatah "anguak anggak" ini bukan sekadar warisan leluhur, melainkan sebuah realitas yang pernah ia alami langsung di lingkungan tempat tinggalnya. Ia berbagi pengalamannya di awal-awal kepindahannya.
"Dulu, saya pernah punya tetangga yang kelihatan sopan, tapi ternyata nyimpan rasa nggak suka. Mungkin karena beda budaya, Bahasa. Tapi sekarang hubungan tersebut sudah baik sebab sesame perantauan harusnya menjadi saudara. Nah, baru paham, itulah yang orang tua di kampung bilang 'anguak anggak geleng amuah'," ujar Riko, Kamis (17/4/2025).
Pengalamannya tersebut memberikan perspektif tentang bagaimana perbedaan budaya dan bahasa terkadang bisa menjadi penghalang komunikasi yang jujur dan terbuka, bahkan di lingkup terkecil seperti hubungan bertetangga.
Di penghujung siaran, pesan bijak digaungkan Uda Boy, menjadi pengingat bahwa kejujuran dan keterbukaan adalah kunci utama dalam membangun hubungan yang harmonis,
"Orang Minang bilang, yang basamo tu elok, tapi kalau hati nan disimpan, pikir nan dipendam, bisa merusak sakampuang. Makanya, kita biasakan sabana jujur, sabana babarikan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....