Nostalgia dengan Pownis, Oto Legendaris
- 29 Mar 2025 20:04 WIB
- Sungailiat
KBRN, Pangkalpinang : Bagi penduduk Pulau Bangka, nama mobil atau oto Pownis sangat melegenda sebagai moda transportasi umum rute Sungailiat ke Pangkalpinang atau sebaliknya. Mobil klasik dengan cat warna merah dan kuning tersebut menyimpan beragam kisah, serta sejarah panjang yang menemani keseharian masyarakat setempat pada masa jaya angkutan umum tersebut.
Nama Pownis merupakan singkatan Persatuan Oto Warga Negara Indonesia Sungailiat. Mobil Pownis sebenarnya adalah mobil truk Mitsubishi dengan tipe Colt Diesel PS 100 yang dimodifikasi menjadi transportasi umum bagi warga.
Pownis hadir sekitar tahun 1950-an di Pulau Bangka, dan kemudian mulai menghilang pada tahun 2000-an, tersisih akibat perubahan kebiasaan masyarakat setempat yang tidak lagi menjadikan angkutan umum seperti Pownis sebagai alat transportasi.
Seiring waktu masyarakat rata-rata telah memiliki kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat, maka perlahan pamor Pownis pun meredup dan kini sirna sama sekali sebagai moda transportasi umum masyarakat.
Kini, hanya dua unit, ya, hanya dua unit Pownis saja tersisa. Kedua Pownis tersebut dikelola oleh Museum Timah Indonesia Pangkalpinang, dan difungsikan sebagai alat angkut wisatawan untuk City Tour Kota Pangkalpinang.
Kami sengaja mengunjungi Museum Timah Indonesia, sekaligus ingin mencoba mengenang masa lalu di mana Pownis tiap hari kami naiki sewaktu zaman sekolah SMP dan SMA. Dan niat itu pun kesampaian, manaiki salah satu dari dua unit Pownis yang masih tersisa berkeliling ke lokasi-lokasi wisata sejarah di Kota Pangkalpinang.
Supir mobil Pownis Museum Timah Indonesia, Hadi menjelaskan sejarah mobil Pownis kepada kami.
“Jadi Pownis itu kepanjangannya Persatuan Oto-Oto Warga Negara Indonesia Sungailiat. Dulunya Pownis ini angkutan kota dalam provinsi ya, yang rute awalnya itu Pangkalpinang Sungailiat pp (pulang-pergi-red). Nah mobil ini sasisnya truk belakangnya kayu, dan dibuat oleh tukang-tukang kayu di Pulau Bangka ini sendiri. Nah, untuk koleksi Museum Timah Indonesia Pangkalpinang, Pownis ini ada dua unit, yang kita naiki ini tahun pembuatannya dan tahun mesinnya itu 1987, dan satunya lagi lebih tua, pembuatannya dan tahun mesinnya itu 1985,” kata Hadi kepada RRI.co.id, di Pangkalpinang, Sabtu (29/3/2025).
Pownis yang di masa jayanya antara 1980 hingga tahun 2000-an menjadi andalan transportasi masyarakat dari Sungailiat ke Pangkalpinang, begitu pun sebaliknya. Jumlah Pownis saat itu tercatat ada 53 unit, dan diberikan nomor lambung 1 sampai 53.
“Satu lagi ciri khasnya mobil Pownis ini punya nomor lambung masing-masing, karena jumlahnya saat itu ada 53 unit, jadi nomor lambungnya 1 sampai 53,” ujarnya.
Kini, Pownis tak lagi difungsikan sebagai alat transportasi umum, punah sudah tertelan masa. Dan hanya nostalgia yang kini dapat dilakukan, mencoba sensasi menumpang mobil legendaris di Pulau Bangka. Rasanya luar biasa.
Bahkan sekedar cerita masa lalu, ketika jayanya, melihat anak-anak sekolah berebutan setiap pagi menumpang Pownis untuk berangkat ke sekolah hingga berdesak-desakan dan bergelantungan di tangga belakang atau di atap Pownis sudah menjadi pemandangan keseharian, meski itu terlihat sangat berbahaya. Namun itulah Pownis dengan segala kisahnya. Sebuah pemandangan yang tak akan pernah lagi terlihat mata.
Imran, warga Kota Pangkalpinang yang kebetulan dalam satu perjalanan dengan kami mengikuti city tour dengan Pownis Museum Timah Indonesia, menuturkan perasaannya menaiki mobil angkutan yang dulu sering ditumpanginya.
“Seru sekali kita naik Pownis ini, inget masa lalu, perasaannya beda dengan dulu. Kalau dulu kan memang keseharian kita biasa naik Pownis ini, sekarang jadi berasa antik mobilnya, sudah serasa turis deh,,hahahah…,” ucap Imran senang.
Apa yang kami dan Imran rasakan mungkin bisa mewakili perasaan siapapun yang dulu sering menumpang mobil Pownis ini, mobil yang bisa dikatakan sudah melegenda di Pulau Bangka, karena sudah ‘hampir-hampir’ tiada.
Pemerhati Sosial Budaya, Ahmadi Sofyan agak menyayangkan sarana transportasi umum seperti oto Pownis ini kini tak lagi beroperasi. Menurutnya, ada pergeseran besar cara pandang masyarakat terhadap angkutan umum.
“Kita lihat saja anak seusia SMA, bahkan SMP saja kini bahkan sudah menaiki kendaraan pribadi, ini kan sudah jauh bergeser nilai-nilai sosial di masyarakat. Terutama sejak Bangka Belitung ini memisahkan diri jadi provinsi sendiri lepas dari Sumatera Selatan, nilai-nilai itu dengan sangat cepat berubah, gengsi masyarakat agak tinggi kalau kita lihat, malu naik angkot,” kata Ahmadi yang kerap disapa Atok Kulop ini.
Menaiki moda transportasi umum disebut Atok Kulop memiliki nilai-nilai sosial positif, yang sebenarnya perlu dibudayakan.
“Di sinilah semua orang terutama anak-anak kita bisa belajar banyak tentang kehidupan, silaturahmi, sopan santun, saling menghargai, bagaimana bisa bersikap mengalah saat melihat orang tua, atau perempuan dengan mempersilakannya duduk, dan banyak lagi pelajaran lainnya,” ujarnya.
Setiap benda ada masanya, setiap masa ada caranya.
Meski kini oto Pownis hanya tinggal 2 saja (seperti lirik lagu Burung Kakak Tua-red), namun dia telah menyentuh hati dan meninggalkan kenangan (mungkin hampir) bagi sebagian besar masyarakat di Pulau Bangka.
Layaklah disebut ‘Pownis, Oto Legendaris’
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....