Sahabat Alam: Dari Hutan, Kita Belajar Keseimbangan

  • 22 Agt 2026 18:07 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Keluar-masuk hutan menjadi keharusan bagi sekelompok komunitas pencinta alam. Hal itu diungkapkan Iwan Sukmawan yang tergabung dalam komunitas Sahabat Alam Indonesia Babel.

Berkemah menjadi bagian aktivitas yang dilakukan bersama anggota Sahabat Alam lainnya.

"Waktu itu di Petaling dan ternyata kemahnya asyik. Beda dengan kemah-kemah Pramuka. Tidak ada aturan harus memakai seragam yang sama. Aturan yang berlaku di situ adalah aturan alam. Kita dibangunkan matahari. Saat matahari mulai menghangat, ya bangun. Saat matahari di atas, istirahat. Saat Zuhur, isoma - istirahat, salat, makan," katanya.

Alam bagi Iwan telah memberikan pembelajaran. "Kita jaga alam, alam jaga kita," katanya.

Debutnya sebagai pencinta alam dimulai saat ia bergabung dengan komunitas Bangka Flora Society (BFS) Bangka Belitung pada tahun 2000. Ia pun menjadi bagian yang memotivasi anggota lainnya, sejalan dengan profesinya sebagai guru. Pada tahun 2024 ia juga bergabung dengan Sahabat Alam Indonesia Babel. Dari situlah kemah demi kemah ia lakukan bersama BFS.

"Awalnya komunitas ini sempat vakum pada 2000-2001. Baru hidup lagi pada 2022. Bahkan sempat berkemah di lapangan becek di pinggir sungai. Akan tetapi, anak-anak tetap semangat," katanya.

Memasuki hutan, menyusuri aliran sungai hingga berkemah tidak semudah yang dibayangkan. Setiap tantangan harus dilalui, tetapi niat tulus untuk tidak merusak ekosistem membuat perjalanan itu terasa biasa-biasa saja.

"Di Bangka banyak sungai. Yang paling berkesan adalah saat memasuki hutan. Ada buaya, ada binatang lain. Namun, jika niat kita tidak merusak alam, insyaallah aman. Saya pernah bertemu ular di depan muka. Dia diam karena niat kita hanya numpang lewat," cerita Iwan.

Pendakian ke Bukit Melabun Bangka dalam Ekspedisi Merah Putih 2026 (Dok. BFS Babel)

Cerita tentang Sahabat Alam. Iwan mengatakan komunitas ini dikhususkan untuk anak-anak dan pemuda agar peduli terhadap alam. Sekarang cabangnya sudah banyak. Ada di Merawang, Bukit Layang, Sungai Upang, dan Petaling. Bahkan ada yang pulang kampung lalu membentuk komunitas sendiri. Tujuannya sama, yaitu menyelamatkan hutan di sekitar.

Bagi Iwan, yang mereka lakukan adalah hal sederhana: mengimbangi apa yang hilang dengan kedua tangan.

"Tenaga kita tidak akan pernah mengalahkan mesin. Akan tetapi, kita berusaha. Sebisa mungkin tanah sejengkal itu menjadi hidup lagi," ujarnya.

"Sahabat Alam Babel bernaung di bawah Bangka Flora Society. Tujuannya mengumpulkan anak muda untuk mengenal alam," kata Iwan, yang dibenarkan Pembina BFS, Yuli Tulistianto.

Menurut Tulis, komunitasnya rutin melakukan kegiatan berkemah, bahkan di antaranya ditempuh melalui pendakian perbukitan. Terakhir kali dilakukan dengan mendaki Bukit Melabun di Bangka pada 15-16 Agustus 2026, dengan mengusung tajuk "Ekspedisi Merah Putih".

"Berkemah dalam rangka Hari Konservasi Nasional dan memperingati HUT ke-81 RI," kata Tulis.

Dari hutan Bangka, semangat menjaga alam terus hidup. Karena bagi Sahabat Alam, tanah sejengkal yang dihidupkan kembali adalah warisan terbaik untuk generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....