Belajar Nasionalisme dari Sosok Pahlawan Nasional Soegijapranata

  • 19 Agt 2026 17:16 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung - Republik Indonesia memiliki seorang pahlawan nasional, yang merupakan seorang rohaniawan Katolik, yakni Mgr. Albertus Soegijapranata. Soegijapranata adalah Uskup Pribumi pertama Indonesia, yang berjasa dalam mempertahankan Kemerdekaan RI dari Belanda, melalui jalur diplomasi.

Pria kelahiran Surakarta, 25 November 1896 itu, berjuang dengan cara meyakinkan rakyat khususnya umat katolik, untuk mendukung penuh berdirinya Republik Indonesia. Dengan jargon 100 persen Katolik 100 persen Indonesia, Soegijapranata yang kerap disapa Soegija, meyakinkan umat Katolik untuk bersatu dan memiliki rasa nasionalisme. Ketika itu, Republik Indonesia yang masih berusia muda, sedang berjuang mengusir Belanda yang kembali datang untuk berkuasa.

"Dia lebih menggunakan tulisan-tulisannya, lebih menggunakan renungan-renungannya, diplomasinya, untuk mempengaruhi semua orang, bahkan dia mempengaruhi dunia," kata RD. Fransiskus Paskalis, Pastor Kepala Gereja Regina Pacis, Belitung, dalam Dialog Moderasi Beragama dengan tema 'Memaknai Kemerdekaan Dengan Kasih dan Toleransi', di Pro 1 RRI Belitung, Rabu, 19 Agustus 2026.

Upaya diplomasi juga dilakukan Soegija ke luar negeri. Sebagai seorang Uskup, ia terus berkomunikasi dengan Tahta Suci Vatikan, agar dapat mendukung Republik Indonesia. Usahanya berhasil, setelah akhirnya Vatikan mengakui kedaulatan Indonesia. Vatikan menjadi negara pertama di Eropa yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

"Setelah Vatikan mengakui kemerdekaan Indonesia, negara-negara Eropa lain juga mengikuti langkah yang dilakukan Vatikan," kata Fransiskus.

Langkah yang dilakukan Soegija dalam mempertahankan negara, menimbulkan semangat generasi muda, untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka mengisi kemerdekaan.

"Apa bentuk sederhana untuk memaknai kemerdekaan yang bisa dilakukan anak muda?," tanya Manda, partisipan dialog.

Fransiskus menjawab, generasi muda dapat mengisi kemerdekaan dengan tidak melupakan sejarah bangsa, dan juga saling menghormati.

"Gunakan media sosial itu untuk membangun sikap nasionalisme kita. Bukan menjadikan media sosial sebagai tempat untuk mendapat informasi-informasi yang tidak baik," kata Fransiskus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....