Jamuan dan Kenang Kisah di Akhir KKN PPM UGM Desa Bukit Layang

  • 09 Agt 2026 23:53 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Usai 50 hari mengabdi di Desa Bukit Layang, Kabupaten Bangka, 28 mahasiswa KKN PPM Universitas Gadjah Mada atau UGM dijamu Keluarga Alumni UGM atau KAGAMA di Kampung Daun, Kelurahan Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, Minggu 9 Agustus 2026.

Bukan sekadar jamuan biasa. Dalam pertemuan itu, para mahasiswa juga menyerap ilmu konservasi alam. Mereka belajar cara menanam dan memelihara Anggrek Bulan Bangka bersama Bangka Flora Society atau BFS Babel.

Kegiatan ini menjadi titik akhir pengabdian mereka di Bangka, sebelum secara resmi dilepas kembali ke kampus oleh Bupati Bangka, Fery Insani, di Kantor Bupati, Senin 10 Agustus 2026.

Yuli Tulistianto, alumnus UGM yang kini menjadi pembina BFS Babel, yang menjamu para peserta KKN. Ia sengaja mengenalkan konservasi melalui tanaman anggrek.

"Kami berharap ini bisa memberikan pengetahuan. Ibarat oleh-oleh setelah 50 hari menyelesaikan program KKN di Desa Bukit Layang," kata Yuli.

Mahasiswa KKN PPM UGM dipandu tanam Anggrek Bulan di Kampung Daun, Sinar Baru, Bangka (Foto: RRI/Dani)

Kegiatan penanaman anggrek itu meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa.

"Kegiatan penanaman anggrek hari ini merupakan kesan indah yang akan terpatri di ingatan saya," kata Nathan, peserta KKN-PPM UGM.

Ia mengaku awalnya hanya ingin "bermain tanah". "Berangkat dari keinginan untuk 'bermain' tanah, kegiatan tadi justru mengantar saya pada pemahaman bahwa lingkungan bukan sekadar objek yang harus dibahas dalam foto dan tulisan. Lingkungan adalah teman, yang memberi ketika diperhatikan," ujarnya.

Nathan juga masih ingat pesan dari Pak Tulis dan Bu Dian: "Apapun yang kita lakukan, dimanapun kita berada, tanamlah pohon, karena ia akan memberi manfaat bagi generasi selanjutnya."

"Setinggi-tingginya ilmu, yang paling elok adalah ketika diimplementasikan demi kebaikan masyarakat. Saya bersyukur bisa bertemu banyak orang baik selama masa KKN-PPM ini," katanya.

Kilas Balik 50 Hari di Bukit Layang

Selama itu para mahasiswa membawa pulang banyak cerita.

Bagi Syilfa, mahasiswa Kepariwisataan, Bukit Layang punya "harta" yang belum banyak disentuh: Sungai Air Layang.

"Sungai Air Layang punya potensi wisata. Tugas kami mempromosikan potensi desa dan kegiatan pemberdayaan masyarakat lewat IG, FB, atau media sosial. Masyarakat perlu mengembangkan potensi desa," ujarnya.

Imami mengungkap kesan menjalankan program KKN di Desa Bukit Layang (Foto: RRI/Dani)

Sementara Imami dari Fakultas Kedokteran fokus pada hal mendasar: anak-anak. "Program kami edukasi gizi seimbang untuk anak SD dan kesehatan mental untuk siswa SMP," katanya.

Rafi, yang berlatar belakang teknik, pulang dengan membawa karya. Ia dan tim merakit teknologi irigasi sederhana untuk membantu pengairan tanaman. Alat itu kemudian dihibahkan ke masyarakat desa.

Yuli Tulistianto, selaku alumnus UGN menyampaikan pesan moral bahwa bagi mahasiswa KKN di Bukit Layang bukan sekadar pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Kegiatan ini menjadi awal untuk memaknai bahwa ilmu yang diimplementasikanlah yang membuat seseorang berubah. Nyata bahwa ilmu tidak hanya sebatas menara gading," pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....