Al-Islam Kemuja, Pondok Pesantren Tertua di Pulau Bangka
- 29 Jun 2026 17:17 WIB
- Sungailiat
Poin Utama
- Al-Islam Kemuja salah satu Pondok Pesantren tertua di Pulau Bangka.
RRI.CO.ID, Bangka- Pondok Pesantren Al-Islam yang terletak di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Pulau Bangka atau se-Bangka Belitung sekalipun.
Pondok pesantren ini diperkirakan berdiri pada tahun 1930-an atau awal abad keduapuluh Masehi. Cikal bakal berdirinya berawal dari kegiatan pengajian (Kitab Kuning) dari rumah ke rumah guru ngaji. Berdasarkan fakta sejarah, pengajian tersebut ber- langsung di Desa Kemuja-dari daerah Katon kemudian pindah ke Kampung Baru. Guru-guru tersebut sebelumnya lama menetap (naon) di Mekkah pasca ibadah haji di tanah suci tersebut.
Begitu banyak putra Desa Kemuja yang melakukan naon dan lemudian mengamalkan ilmu mereka di tanah kelahiran, yaitu: KH. Abdurrasyid (Akek Dor), KH. Adam (1956-1965), KH.Yunus, dan KH. Derasak (periode per- tama). Setelah itu menyusul beberapa orang, termasuk KH. Abdus Somad. Akek Dor dan KH. Adam adalah dua tokoh yang menggagas pembangunan Sekolah Agama di Desa Kemuja (Berdasarkan catatan kecil Guru Imron bin H. Dja'far).
Berkaitan dengan semangat pendirian Poondok Pesantren Al-Islam, maka disebutlah beberapa tokoh kharismatik putra Kemuja, yaitu:KH. Abdurrasyid (Akek Dor), KH. Adam, KH. Abdus Somad, KH. Ahmad bin H.Ladi, KH. Ahmad Bin Abu Bakar, KH. Azhari, KH. Sanusi, KH. Mahrob bin H.Aban, KH. Junaidi bin H.Mad.Amin dan KH. Abdul Latif serta lainnya.
Di Pulau Bangka, mereka lebih diapresiasi sebagai guru atau tuan guru (ulama atau yang dituakan), karena mereka sangat kompeten atau ahli dalam bidang ilmu Agama Islam. Kekuatan kepribadian dan integritas diri mereka memberikan sentuhan tersendiri bagi masyarakat Kemuja dan sekitarnya, khususnya bagi penguatan ruh (jiwa) dan tradisi kepesantrenan Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja.
Kegiatan pengajian (sekolah agama) awalnya berlangsung di beberapa rumah pribadi, yaitu rumah kosong Akek Umar di Katon selama 5 tahun (masa penjajahan Jepang), rumah Amang Aser (Pak/ H. Tajo) dari tahun 1948-1952. Kemudian pindah ke Gedung dua tingkat di bengkel (1952-1960. Pendidikan agama tersebut juga disebut,"Sekolah Arab".
Diantara yang pernah berguru di sekolah Agama tersebut adalah Umar, Tajo, Sulaiman H.Achmad, Bujot, Abdul Hadi, Muhtar bin H. Mufti dan Musa. Periode berikutnya adalah Humasi Zaman Zahri, Sofwan, Musdar, Rasyid dan Syaikhan. Terbentuk juga saat itu Diniyah Istimewa berlangsung dari tahun 1962 sampai dengan tahun 1964 dikepalai oleh KH.Abdus Somad dengan 12 murid, yaitu: H.Amsa, Romli, Badrun, Hosen, Jalil, Rohmad, Zabir, Umar, Imron, Dja'far bin Semael, H.Noh dan.H.Sa'i.
Materi pelajaran adalah tauhid dan fiqh (ilmu ibadah dan amalan), ditambah dengan ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), Ilmu Balaghah, Ilmu Tafsir dan Hadits. Pengorbanan dan ketulusan para pendahulu yang kemudian menginspirasi pendirian pondok pesantren di Desa Kemuja.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Islam, Amzahri, menjelaskan, berdasarkan historis pondok pesantren ini merupakan sejarah perjuangan para tokoh masyarakat Desa Kemuja. Baik itu para mualimin, para sesepuh dan pemerintahan desa ketika itu. Pada saat itu, cikal bakalnya sekitar tahun 1932.
Adanya pengajian halaqoh oleh para mualimin atau orang alim yang ada di Desa Kemuja. Sejumlah di antaranya berangkat belajar khususnya bidang keaganaan ke Mekkah Al-Mukarramah.
“Itu, kemudian sepulang dari sana. Di antaranya adalah yang kami kenal secara fisik mungkin secara zohirnya. Terutama yang kharismatik itu adalah K.H. Abu Samad bin Samad Alarhum. Kemudian pas saat itu juga masih banyak juga yang masih hidup,” kata Amzahri.
“Di antaranya tadi itu K.H. Syahri, K.H. Mahrob, K.H. Sanusi, K.H. Ahmad. K.H. Ahmad ini ada dua. K.H. Ahmad ini ada dua K.H. Ahmad bin Abu Bakar, K.H. Ahmad bin H. Ladi. Kemudian K.H. Junaidi bin H. Muhammad Amin. K.H. Muhtar. Dan yang paling tua itu adalah K.H. Haji Adam. K.H. Haji Adam,” ujarnya.
Ketika itu selain warga lokal, banyak juga masyarakat dari desa-desa yang lain yang menuntut ilmu agama di desa Kemuja seperti dari Desa Kota Waringin, dari desa Labu, dari Tanah Bawah, dan sekitar Pulau Bangka.
“Setelah meninggalnya beliau-beliau itu, maka para tokoh agama, tokoh masyarakat seterusnya adalah mendirikan pondok pesantren ini berdasarkan hasil musawarah,” ujarnya.
Secara ketokohan sekitar 1960-an ke atas itu ada empat orang sebagai pelopor. Baik itu sebagai support dana untuk mem-back-up bagaimana nanti berdirinya Madrasah atau penopasan pesantren, maka kemudian beridirilah Lembaga Kesejahteraan Desa yang dinamakan dengan LKD .
“Sekitar tahun 1964 berdirinya. Itu perkebunan karet dengan luas lahan kurang lebih 160 hektare. Ketokohan empat tadi itu diantaranya adalah KH Humasi bin Haji Wahab, KH Mufti bin Ladi, kemudian Haji Muhammad bin bin H Mad Yasin, kemudian H Rozali bin Saat. Itu sebagai pelopor, baik itu pembangunan LKD, kemudian juga pembangunan berdirinya yayasan pondok pesantren. Kemudian diikuti dengan pratokoh-tokoh yang lain berdasarkan itu,” ujarnya.
Segala bentuk apapun yang direncangan oleh empat tokoh itu kemudian musawarah, kemudian diputuskan dan dibuatkan semacam proposal lalu diajulah sebagai keputusan terakhir kepada KH Abdul Samad. Jika misalnya seluruh program itu disetujui oleh KH Abdul Somad, maka mereka-mereka empat tokoh tersebut itu baru bisa melaksanakan pendirian Pondok Pesantren Al-Islam.
“Kalau tidak, nggak boleh. Jadi rujuknya kembali kepada Kiai Haji Abdul Samad Al Marhum bin Samad itu. Maka berdirilah Pondok Pesantren Al Islam Kemudian, karena sudah ada sebagai penyangdananya yaitu perkebunan itu untuk membayar para guru seluruh aktivitas yang ada di pesantren,” kata Ustaz Amzahri.
Singkat cerita, berjalan sedemikian rupa, sehingga pada tahun 1977, didirikan pelatakan batu pertama. Pembangunan empat lokal, 3 lokal untuk ruang belajar, 1 lokal untuk perkantoran. Pelatakan batu pertamanya pada 1977 itu diletak dan didoakan oleh KH Abdul Samad sebagai tokoh kharismatik bidang keagamaan pada saat itu.
“Alhamdulillah, InsyaAllah smapai kodoa beliau yang kita masih ingat itu doanya begini yang terakhir mudah-mudah pendidikan Pondok Pesantren Al-Islam sampai kiamat,” ujarnya.
Pihaknya mencatat hingga saat ini sudah puluhan ribu alumni Ponpes tersebut. Dengan berbagai macam tingkatan dari TK, TPA, Madrasah Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.
“Seluruh tenaga pendidik dan pegawai kurang lebih sekitar 180-an seluruhnya. Mulai dari guru, tenaga, dan pengurus yayasan pimpinan secara keseluruhan. Bagi santri, tamatan, Pesantren Al-Islam, yang kita tekankan lah pertama adalah pembacaan kitab suci Al-Quran yang bagus, yang baik. Kemudian juga termasuk tajib Al-Quran, kemudian juga ibadah-ibadah yaumiah keseharian di masyarakat,” ujarnya.
“Kemudian tidak kalah pentingnya adalah menggalakkan kitab, kalau bahasa kitanya kitab kuning. Kemudian juga tidak kalah pentingnya adalah skill-skill di bidang yang lain, sesuai dengan perkembangan sekarang. Jadi skill-skill baik itu komputer, dan seterusnya. Kemudian juga mungkin ikon-ikon yang lain itu juga sudah kita bangun di sini,” katanya.
Senada dengan itu, salah satu tenaga pendidik paling senior atau sepuh di Pondok Pesantran Al-Islam ini, Nusro menceritakan latar belakang sejarah Pondok Pesantren Al-Islam ini. Ketika itu, di desa Kemuja ini tingkat pendidikan masih sangat minim. Sementara ekonomi masyarakat sedikit lemah. Maka dari itu oleh tokoh-tokoh masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak ini satu-satunya untuk mendirikan lembaga ini.
“Kemudian Pondok Pesantren kami ini sebuah lembaga itu erat hubungannya dengan lembaga LKD. Jadi sebetulnya sebelum berdirinya Pondok Pesantren ini LKD dulu berdiri. LKD itu berdiri tahun 1964. Pada saat bukan desa Kemuja saja tapi Indonesia waktu itu mengalami krisis. Krisis politik termasuk krisis ekonomi. Sebelum terjadinya Gerakan 31 September 1964. Jadi waktu itu di Kemuja ini juga termasuk krisis moral. Terutama karena kurangnya pendidikan tadi, terutama pendidikan agama, kemudian krisis ekonomi,” ujar Ustaz Nusro.
Nusro mencertikan masa-masa itu, mengingat faktor ekonomi masyarakat untuk menyekolahlan anaknya di luar itu tidak mungkin. Satu-satunya untuk membantu masyarakat bidang pendidikan ini adalah membangun pesantren ini khususnya bidang agama.
“Awalnya dari ide para pendiri itu pesantren ini lebih ditekankan pada pendidikan agama. 70 persen agama. Namun mengingat perkembangan seiring dengan perkembangan antara mata pelajaran agama dengan umum itu ada keseimbanganlah. Karena kita disini juga tetap berpedoman dengan kurikulim pemerintah dan kurikulum salafiyah,” katanya.
Sosok ustaz Nusro ini mengajar sejak tahun 1977, ketika itu tenaga pendidik di desa ini sangat minim dengan enam orang tenaga pendidik atau guru. Sebab sejumlah masyakat berpendidikan banyak, tetapi tidak berada di Kemuja ketika itu, melainkan mereka memilih tempat di kota.
“Jadi kami salah satunya, sebetulnya kami pendidikan sangat minim juga. Kami latar belakangnya sama aturnya, hanya itu. Waktu mulai berdiri MTS ini, gurunya cuma enam orang. Tiga guru agama, tiga guru pengetahuan umum,” ujarnya.
Pada tahun 1977 itu pelajaran diajarkan pada waktu sore dan malam. Untuk pelajaran umum kurikulum diajarkan sore, untuk salafiahnya malam hari, akan tetapi itu pun belum sepenuhnya.
“Tenaga-tenaganya waktu itu masih yang tua-tua. Tokoh-tokoh yang ada di Kemuja ini. Sejak tahun 77 hingga saat ini masih kuat untuk mengajar saat ini. Umur kami 76. Lahir 19 Desember 1949. Pada tahun 77 itu umur sekita 20-an,” katanya.
Sementara itu, Budayawan Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan sekaligus cucu dari pendiri Ponpes Al-Islam ini menuturkan, ketika itu sekitar tahun 1932 yayasan ini disebut dengan “Sekolah Arab”. Setelah itu pada tahun 1952 didirkan gedung dua lantai untuk madrasah tersebut.
“Sekolah Arab tahun 1932. Lalu pada tahun 1952, buyut kami namanya Yusuf itu membangun gedung dua lantai untuk madrasah tersebut pada 1952. Itu tanah wakaf di kampung bengkel orang nyebutnya. Nah sekarang masih ada bangunan itu, nah itu sekolah dua tingkat, itu asal-muasalnya,” kata Ahmadi.
Pada saat itu ada sekitar 20 kiai atau orang-orang yang tokoh masyarakat Kemuja- belajar ke Makkah. Termasuk kakeknya, KH. Azhari. Selanjutnya lada saat itu didirikanlah peletakan batu pertama pesantren Al-Islam itu dari madrasah ke pesantren.
“(Peletakkan batu pertama) Yang dilakukan oleh KH Abdul Somad. Tahunnya ini yang saya kurang-kurang pahamnya ya. Peletakan batu pertamanya oleh Kiai Haji Abdul Somad. Itu saksi hidup masih ada ketua pesantren sekarang, Pak Amzahri. KH Abdul Somad ini adalah ulamanya para ulama di Kemuja, Termasuk kakek saya di bawah beliau. Dalam artian itu beliau ini senior yang memang dihormati para ulama,” katanya.
Pada peletakkan batu pertama Pondok Pesantren ini, Ahmadi menirukan kalimat yang diucapkan yakni “Bismillah Insya Allah sampai kiamat”.
“Bismillah Insya Allah sampai kiamat. Beliau ngadep (menghadap) ke kiblat. Cuma itu aja omongan beliau. Jadi peletakan batu pertama. Pendirian pesantren ini tidak pernah menggunakan proposal ataupun bantuan dari pemerintah. Jadi urunan memang orang-orang Kemuja. Jadi pesantren itu tidak ada kepemilikan, milik masyarakat Kemuja. Jadi mau siapapun yang ngurusnya kepemilikannya ya masyarakat Kemuja,” ucap Atok Kulop sapannya.
Alumni Ponpes Al-Islam ini pun menjelaskan, pada tahun 1952 adalah pembangunan gedungnya Pondok Pesantren, akan tetapi madrasah ini sudah berdiri sejak 1932.
Ahmadi menilai Pondok Pesantren Al-Islam ini sangat eksis. Di saat belim banyaknya pesantren Pesantren Al-Islam menjadi “kiblat”.
“Makanya cek saja, 300 lebih desa, di bangka ini terutama, ada tidak satu desa saja yang tidak ada Pesantren Al-Islam? Pasti selalu ada Pesantren Al-Islam di setiap desa tersebut. Kecuali di desa-desa yang memang penduduknya non-muslim. Jadi, Pesantren Al-Islam itu menyebar di Bangka ini. Walaupun mereka cuma sekolahnya setahun-dua tahun. Nah, dulu memang kiblay, kalau orang nyebutnya, kiblatnya, ya Kemuja. Karena kumpulnya ulama-ulama disini dulu, Syekh Abdurrahman Sidiq juga disini,” ujarnya.
Seiring perjalanan waktu, banyak orang membangun pesantren di mana-mana. Bahkan sampai tiap kampung sudah mulai sibuk membangun Pesantren, majelis dan segala macam, Ponpes Al-Islam tetap utuh.
“Tetap utuh dalam artian sampai hari ini tetap berjalan. Pelajarannya, ya, itu-itu saja. Tidak ada bahasa Arab wajib, bahasa Inggris wajib, seperti mungkin Pondok-Pondok, Gontor. Jadi, salafi banget? Ya, enggak. Modern juga enggak. Al-Islam itu. Dia ada di tengah-tengah. Sehingga sampai hari ini, bagiku tetap eksis,” katanya.
Sebagai cucu dari salah satu pendiri, ia menganggap pesantren ini adalah keberkahan dari para orang tua, para ulama terdahulu dalam membangun Pesantren karena mereka murni untuk pendidikan.
“Mungkin, ya, kita tidak tahu niat. Tapi kalau kita melihat dari latar belakang mereka, mereka benar-benar berkorban, murni, sehingga di situ ada keberkahan. Banyak Pesantren yang hebat dari Al-Islam. Sangat banyak di Bangka, tidak usah keluar di Bangka, penuh,” ujarnya.
Sebagai budaywan, Ahmadi menilai khas dari pondok pesantren ini adalah berada di tengah-tengah terlalu moderen, tidak, terlalu salafi banget, tidak.
“Jadi, di situ, kalau kau ngelihat, Santri yang berasal dari Desa Kemuja, boleh tidak tinggal di asrama, jadi pulang ke rumah. Dengan alasan karena untuk membantu orang tua. Jadi, fleksibel. Jadi, Pesantren ini, ya kalau dibilang punya karakter, karakternya fleksibel itulah. Sangat fleksibel. Itu ciri khasnya,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....