TMMD: Kerja Nyata untuk Negeri Laskar Pelangi
- 23 Agt 2025 07:49 WIB
- Sungailiat
KBRN, Belitung Timur; Di wilayah selatan Pulau Belitung, tepatnya di Kecamatan Simpang Pesak, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terdapat dua dusun berdiri berdampingan, namun seperti berada di dua dunia yang berbeda.
Dusun Aik Dekat, sebuah tempat yang didalamnya berisi masyarakat lokal 'Melayu Belitong', hidup tenang dengan tradisi leluhur dan kearifan budaya yang dijaga turun temurun.
Sementara itu, Dusun Sidorejo yang dihuni oleh para transmigran asal Pulau Jawa, datang sekitar tahun 1998-an, membawa semangat baru, bahasa yang berbeda, dan cita rasa kehidupan dan kultur yang khas.
Secara geografis, jarak kedua dusun ini sebenarnya sangat dekat. Sejak puluhan tahun, jalur ini menjadi urat nadi dan pencari nafkah warga. Namun, hubungan kedua dusun ini berjalan datar. Jalanan setapak sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor, menjadi lumpur saat hujan, atau bahkan kepulan debu saat kemarau.
Bahkan, ada satu titik yang selama ini menjadi momok bagi warga, yakni sekitar aik arongan (sungai) yang bernama 'Seruk', jalur ini nyaris tak bisa dilalui kala musim hujan, lumpur menjerat roda motor pencari nafkah, dan arus air kadang meluap menutup jalanan itu.
Melihat akses jalan kedua dusun tersebut yang belum layak, maka TNI Angkatan Darat (AD) melalui Kodim 0414/Belitung melakukan gerak nyata untuk mewujudkan harapan masyarakat melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 yang dilaksanakan dari 23 Juli hingga 21 Agustus 2025.
TMMD ke-125 ini mengusung tema "Dengan Semangat TMMD, Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah." Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan, tidak hanya menyentuh kota besar, tetapi juga wilayah pedesaan yang memerlukan perhatian serius.
"Faktor kebutuhan dan saran dari masyarakat yang cukup urgent, kemudian kami sampaikan ke Pemda Belitung Timur dan Alhamdulillah di respon, sehingga sasaran program TMMD ke-125 ini bisa terwujud untuk membangun akses jalan bagi kedua dusun, yakni Aik Dekat dan Sidorejo," kata Komandan Kodim (Dandim) 0414/Belitung Letkol Inf Karuniawan Hanif Arridho kepada RRI, Rabu (23/7/2025).
Kini, di tengah desa yang jauh dari sorotan kota, dan hiruk pikuk keramaian, sebelum suara alat berat mulai menggema, tradisi adat istiadat pun berbicara. Tokoh adat atau dukun kampong Belitong berkumpul di titik awal pembangunan, membawa perlengkapan untuk melakukan ritual bekesal atau bekesalan, ritual adat turun temurun sebagai penolak bala, doa keselamatan dan sebagai permohonan izin dengan yang maha kuasa.
Air yang sudah dicampur daun neruse dan daun ati-ati disiramkan perlahan ke tanah pembangunan jalan yang akan dibuka, diikuti taburan beras kuning yang sudah dilantunkan doa oleh tetua adat. Langkah demi langkah rombongan tokoh adat bergerak menyusuri jalan yang akan dibangun, menghamburkan kesalan hingga ke titik akhir.
"Tradisi bekesalan ini turun temurun kita lakukan, ritual adat dari leluhur sebagai bentuk permohonan izin kepada yang maha kuasa agar dijaga, diberikan kelancaran dan keselamatan dalam menjalankan program pengerjaan jalan, dan tidak ada kejadian diluar nalar," kata Kik Juyo, Dukun Kampong Birah.
Tanah-tanah yang selama ini membungkam impian warga, kini mulai membuka akses yang lebih manusiawi. Prajurit berseragam loreng itu hadir dengan semangat, bukan sekedar janji melainkan bukti bahwa slogan"TNI Bersama Rakyat" itu nyata.
Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun. Dari kejauhan, terdengar "tak... tak... tak" denting cangkul yang menghantam tanah, berirama seperti lagu kerja yang tak lekang oleh waktu. Di sisi Iain, terdengar suara "grrooomm... grrooomm…" ketika buldozer yang perlahan merayap, rodanya menggilas batu dan tanah, seperti sedang menata masa depan selapis demi selapis.
Tak jauh dari itu, excavator berdiri tegak bagai raksasa kuning yang siap bekerja. Lengan besinya berayun, ayunannya tak hanya memindahkan tanah, tapi juga memindahkan batas, mendekatkan Aik Dekat dan Sidorejo.
Jalan yang dulunya sempit, berlubang, kini sudah dilebarkan, ditinggikan dan diratakan oleh prajurit TNI bersama warga. Tanah yang dulunya sering berlumpur diperkuat, ditambah dengan pondasi siring saluran air, talud, dan gorong-gorong sebagai simbol kepastian bahwa jalan yang diperjuangkan berpuluh-puluh tahun ini akan bertahan lama, memberi manfaat lintas generasi.
"Dulu, kalau ingin ke Sidorejo atau sebaliknya kami ngambil jalan lain, mutar sejauh 5 kilometer, demi untuk saling bertemu, ataupun membawa hasil kebun sawit," kata Kepala Dusun Aik Dekat Tommy Rudiansyah.
Kepala Desa Simpang Pesak, Suryanto tak bisa menyembunyikan rasa harunya saat mendengar kabar lokasi TMMD ke-125 ditempatkan di desanya. Baginya, pembangunan jalan ini lebih dari sekadar akses. Ini simbol perubahan, janji kehidupan yang lebih sejahtera untuk warganya.
"Masyarakat di sini sangat senang gembira dan berterimakasih kepada TNI. Ini adalah cita-cita lama warga kami. Sekarang berkat TMMD impian itu akhirnya terwujud, jalan penghubung ini tak hanya untuk akses ekonomi warga, tetapi juga jalan transmigrasi dan warga lokal pun terbuka lebar," kata Suryanto.
Sepekan berlalu, jalur jalanan sudah membentang sepanjang 3.851 meter dengan lebar 6 meter, belum mencapai 100 persen pembangunan, namun sudah banyak warga yang sudah merasakan manfaatnya. Jalan yang sedang dibangun ini sudah mulai mengubah ritme kehidupan masyarakat setempat.

Kondisi jalan penghubung antar Dusun Aik Dekat ke Sidorejo yang sudah mulus dan sudah digunakan warga untuk mengangkut hasil kebun.
"Jalannya sudah mulus, tidak macam dulu sempit. Sekarang akses untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan lebih mudah. Kami sangat berterimakasih dengan adanya TMMD ini bisa lebih mempermudah akses bagi masyarakat kecil seperti kami," ujar Erdiansyah warga Aik Dekat.
Menyempurnakan Langkah, Menghangatkan Impian
TMMD ke-125 ini tidak hanya meninggalkan jejak bagi warga Desa Simpang Pesak. Beberapa kilometer dari sini, denyut kegiatan serupa mengalir dengan wajah yang berbeda.
Di Kecamatan Gantung, tepatnya di Desa Limbongan, program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi harapan baru bagi Rudiansyah (48) seorang buruh harian lepas. Kehidupan Rudiansyah sungguh memprihatinkan, apalagi sejak sang istri wafat saat melahirkan buah hati mereka. Ia hidup sebatang kara di sebuah rumah yang hampir roboh di makan usia.

Kondisi rumah Rudiansyah yang sangat memprihatikan dan jauh dari kata layak huni.
Lantai rumah itu masih berupa tanah, bahkan kehidupan Rudiansyah yang sebatang kara ini kian sulit karena tidak tersedia sanitasi Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Bahkan, untuk buang air pun, Rudi harus berjalan ke hutan belakang rumah, sebuah kondisi yang jauh dari kata layak, apalagi sehat.
Kini, rumah reyot yang sudah menjadi tempatnya berlindung selama bertahun-tahun, semuanya dibongkar habis oleh prajurit TNI. Para prajurit datang bukan dengan senjata, melainkan dengan alat-alat tukang untuk menghadirkan tempat berlindung yang lebih manusiawi, sehat dan nyaman bagi Rudiansyah.
Rudiansyah sejenak terdiam, dirinya masih seolah tak percaya segenap mimpi dan doanya terkabulkan.

Rudiansyah (baju biru) sedang duduk sambil menatap ke arah rumah yang ia huni bertahun-tahun, kini sedang di renovasi oleh prajurit TNI bersama warga.
"Kondisi rumah saya ini memang tidak layak huni, atap bocor, dinding bocor, kamar mandi tidak punya, banyak susahnya lah. Saya tentunya tidak menyangka rumah ini akan direnovasi dari prajurit TNI. Terimakasih TNI," ucap Rudi.
Pasiter Kodim 0414/Belitung, Letda Inf Irjuhansyah mengungkapkan, renovasi RTLH merupakan wujud bakti TNI untuk kesejahteraan masyarakat. Menurut Irjuhansyah, pemilihan rumah tersebut untuk direnovasi bukan tanpa alasan yang kuat.
"Setelah Babinsa melaporkan adanya rumah masyarakat yang tidak layak, saya langsung turun mengecek dan disitulah hati saya ini terketuk. Pertama, karena status sosial Rudiansyah yang sebatang kara, dan ternyata rumahnya juga tidak memiliki MCK," katanya.
Pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 0414/Belitung
Berawal pada Rabu, 23 Juli 2025, Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten, dan Komandan Kodim (Dandim) 0414/Belitung Letkol Inf Karuniawan Hanif Arridho berkumpul di Lapangan Bola Dusun Sidorejo bersama 150 orang prajurit TNI untuk melaksanakan upacara pembukaan TMMD ke-125.
Dengan berseragam retret, Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten menyampaikan, program TMMD merupakan wujud nyata kolaborasi dan gotong-royong antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan dan peningkatan ekonomi.
TMMD menurutnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menyasar pembangunan non-fisik yang sangat dibutuhkan masyarakat di Desa Simpang Pesak.
Pelaksanaan TMMD ke-125 ini merupakan usulan langsung dari masyarakat Desa Simpang Pesak yang dilatarbelakangi kebutuhan mendesak masyarakat untuk membuka akses jalan yang menjadi kendala mobilitas masyarakat," ujar Bupati Kamarudin Muten.
Ia mengatakan, dengan bantuan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Belitung Timur sebesar Rp1000.000.000, banyak pembangunan non fisik yang dilaksanakan. Hal ini tidak mungkin terwujud, jika anggaran senilai Rp1000.000.000 tersebut dialokasikan untuk proyek pemerintah seperti biasanya.
"Apalagi pelaksanaan TMMD saat ini dipusatkan di Dusun Sidorejo, yang merupakan wilayah yang sangat memerlukan perhatian dan penguatan infrastruktur serta pemberdayaan masyarakat. Karena kalau dikerjakan melalui program yang lain, tentu harus mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi," kata Bupati Kamarudin.
Kegiatan TMMD ke-125 Kodim 0414/Belitung mendapat apresiasi langsung dari tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabes TNI AD saat melakukan kunjungan ke lokasi TMMD yang dipimpin oleh Kolonel Inf Andi Kusworo didampingi perwakilan dari Kodam II/Sriwijaya, Kolonel Inf Edi Prayitno di Desa Simpang Pesak, Kecamatan Simpang Pesak, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Rabu (6/8/2025).
Kolonel Inf Andi Kusworo mengucapkan terimakasih kepada seluruh prajurit TNI dan warga setempat atas kerjasama dan gotong royong yang dilakukan, sehingga program TMMD Ke-125 dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabes TNI AD saat melakukan peninjauan ke lokasi TMMD ke-125 di Desa Simpang Pesak, Kecamatan Simpang Pesak Kabupaten Belitung Timur, Rabu (6/8/2025
"Jalan ini masih berupa pengerasan saja, tentu perlu sentuhan lebih lanjut. Kami titip kepada Pemda agar nantinya bisa di aspal, sehingga manfaatnya lebih maksimal, baik untuk angkutan hasil perkebunan maupun mobilitas masyarakat," ujar Kolonel Inf Andi Kusworo kepada RRI.
Satu bulan berlalu, TMMD ke-125 kini sudah membuka pintu yang lebar untuk masyarakat menuju babak baru. Suasana penuh khidmat dan haru mewarnai prosesi upacara penutupan TMMD, menandai berakhirnya kerja keras , keringat dan kebersamaan TNI dan rakyat.
Hadir Panglima Komando Militer (Kodam) II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis yang mengaku sangat puas dengan hasil kerja keras warga dan Satgas TMMD. Lulusan Akademi Militer tahun 1993 ini menyatakan seluruh program sasaran fisik sudah bisa langsung dipergunakan masyarakat dan ia berpesan agar masyarakat bisa memelihara dan merawat seluruh infrastruktur yang sudah terbangun dengan baik.
"Saya titipkan proyek pembangunan fisik TMMD kepada masyarakat Simpang Pesak. Tolong dijaga, dipelihara dan dirawat dengan baik Bukan hanya fisiknya, namun kegiatan gotong-royong dan semangat bermusyawarah masyarakat di sini juga harus terus dipelihara," ujarnya.

Upacara penutupan TMMD ke-125 di wilayah Kodim 0414/Belitung yang dipimpin Panglima Kodam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, Kamis (21/8/2025).
Dari sasaran fisik yang dijalankan, pembangunan jalan penghubung antar Dusun Aik Dekat ke Sidorejo sepanjang 3.851 meter dan lebar 6 meter kini terbentang mulus, dilengkapi siring saluran air sepanjang 20 meter, gorong-gorong 9 titik dan talud.
Selain itu, renovasi dua unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang sudah menghadirkan senyuman baru bagi Rudiansyah seorang buruh harian lepas yang telah lama hidup dengan keterbatasan dan tentunya kebahagiaan yang sama juga dirasakan Rodiah (54) seorang janda sepuh.
Pembangunan MCK dan tempat wudhu di Masjid Al-Hidayah Dusun Sidorejo, hingga pembangunan sumur bor di 5 titik untuk kebutuhan air bersih, menjadi bukti nyata sentuhan TMMD.
Program non fisik pun berjalan beriringan, mulai dari penyuluhan Wawasan Kebangsaan, Narkoba, Pertanian, Percepatan dan Penurunan Stunting, KB dan Kesehatan, Pembinaan Mental, Kamtibmas, hingga penanaman 1000 batang mangrove. Semua itu dilakukan untuk keberlangsungan hidup masyarakat Desa Simpang Pesak yang lebih baik kedepan.
TMMD telah usai dan meninggalkan Desa Simpang Pesak, namun jejak itu akan terus tinggal dalam bentuk jalan yang kini sudah nyaman dilalui warga, rumah yang lebih layak huni, air bersih yang lebih mudah didapatkan dan tentu saja semangat gotong royong yang tak lekang oleh waktu.