Tersentuh, Kajari Belitung Serahkan Bantuan untuk Anak Stunting
- 23 Jul 2025 01:31 WIB
- Sungailiat
KBRN, Belitung : Langkah kaki Kepala Kejaksaan Negeri Belitung, Bagus Nur Jakfar, terhenti sejenak ketika matanya menatap rumah berdinding terpal dan beratap seng yang telah berkarat milik salah satu warga di Desa Juru Sebrang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.
Rumah itu kondisinya jauh dari layak. Dinding bergoyang tertiup angin, dan atap bocor tak mampu menghalau hujan. Di sanalah Juliani dan keluarganya berteduh dari panas dan hujan tempat yang nyaris tak pantas disebut rumah.

Bagus yang datang menyalurkan bantuan untuk anak-anak stunting dan keluarga pra-sejahtera, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
"Setelah melihat langsung kondisi di sini, saya tidak bisa berkata-kata. Di antara saya duduk nyaman, ternyata banyak warga masih hidup seperti ini," ucapnya lirih, Selasa (22/7/2025), di sela kegiatan penyaluran bantuan.
Bagus tak datang sendiri. Ia didampingi oleh Kepala Perwakilan BKKBN Kepulauan Bangka Belitung, Fazar Supriadi, beserta jajaran. Bantuan yang disalurkan merupakan bagian dari upaya percepatan penanganan stunting, mengingat masih tingginya angka anak kekurangan gizi di Belitung.
Data BKKBN menyebutkan terdapat 481 anak stunting dan 200 ibu hamil dengan risiko tinggi stunting di wilayah ini. Namun bagi Bagus, kegiatan ini bukan sekadar pembagian bantuan. Ia menyebut ini sebagai alarm sosial, sinyal yang mengingatkan bahwa di balik kilau tambang dan perkebunan sawit Belitung, masih tersimpan kemiskinan yang nyata.

"Saya terlalu nyaman duduk diatas sana (kantor), ternyata di Belitung masih ada kemiskinan seperti ini," ujarnya dengan nada prihatin.
Ia pun menyerukan keterlibatan seluruh pihak, terutama perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Belitung. Menurutnya, sudah saatnya program tanggung jawab sosial atau CSR benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
"Kami akan koordinasi dengan Bupati dan Forkopimda. Perusahaan-perusahaan itu semua harus bertanggung jawab, kemana CSR mereka selama ini," tegasnya.
Tak berhenti sampai di situ, Kajari Belitung berkomitmen melakukan pemetaan data lebih lanjut. Program lanjutan akan mencakup pendataan 681 anak stunting, pemetaan kondisi keluarga, serta edukasi gizi dan kesehatan yang menyasar kelompok masyarakat pra-sejahtera.
Di balik semua itu, Maryati, salah satu penerima bantuan, hanya bisa mengucap syukur. Ia tinggal bersama suaminya yang bekerja sebagai nelayan dan empat anak mereka di rumah sederhana, yang hampir tak menyentuh kategori layak.
"Alhamdulillah, lega dapat bantuan. Bisa dipakai untuk beli beras. Suami saya kadang pergi melaut sampai tiga hari, hasilnya tidak menentu, kadang hanya cukup-cukup saja," tuturnya.

Maryati sempat menerima bantuan saat mengandung, namun kini bantuan itu terhenti. Ia juga menyimpan harapan besar untuk bisa memiliki rumah yang lebih layak, meskipun itu bukan perkara mudah.
"Kami sih mau bantuan rumah, tapi ini bukan tanah kami. Jadi tidak bisa dibantu," katanya pelan.
Sementara itu, Kepala Desa Juru Seberang, Adriansyah, mengatakan kondisi seperti Maryati bukanlah satu-satunya. Ia mencatat setidaknya ada 7 hingga 8 rumah lain yang juga berada dalam kondisi serupa. Pengajuan bantuan rumah layak telah dilayangkan ke DPUPR atau pemerintah kabupaten, namun hingga kini belum juga terealisasi.
"Tau sendirilah kalau dana desa saja tidak cukup, tapi selalu kami follow-up ke pemerintah kabupaten untuk perhatiannya ke warga desa kami," jelas Adriansyah.
Adriansyah menilai, langkah kecil yang dimulai dari kunjungan ini mungkin belum bisa menyelesaikan seluruh persoalan. Tapi di tengah kesunyian desa, harapan itu setidaknya telah kembali menyala.