Budaya, Haluan Pembangunan yang Termarjinalkan
- 22 Apr 2025 12:30 WIB
- Sungailiat
KBRN, Pangkalpinang : Kemajuan teknologi informasi yang masif memberi pengaruh terjadinya 'banjir informasi dan budaya asing'. Akibat lain yang mengkhawatirkan yakni kian mengancam eksistensi budaya lokal yang seakan kian 'termarjinalkan'.
"Yang namanya banjir itu kan membawa limbah, membawa sampah, jadi ketika terjadi banjir informasi dan juga budaya asing ke kita, maka yang dibawa ya 'sampah dan limbah budaya'. Dan ironinya selama ini kan banyak yang menganggap budaya asing itu superior, hebat, sementara budaya sendiri jadi inferior, termarjinalkan,” kata Sejarawan & Budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian DPMP, kepada rri.co.id, di Pangkalpinang, Selasa (22/4/2025).
Menurutnya, banjir informasi dan budaya tersebut mau tak mau harus dibendung. Caranya, dengan memperkuat budaya lokal dan nasional.
“Jadi sampah budaya akibat banjir derasnya informasi itu yang harus kita jaga, dengan cara memperkuat budaya lokal atau nasional, kristalisasi nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam Pancasila itu yang harus kita perkuat,” ujarnya.
Ditambahkannya, untuk era abad ke depan banyak sekali kompetensi dan kecakapan hidup yang harus ditanamkan pada generasi penerus bangsa. Ke semuanya itu merupakan cara yang bisa dilakukan agar arus informasi dan budaya asing dapat ter filter dengan baik.
“Seperti kecakapan berpikir kritis, kecakapan memecahkan masalah, kecakapan komunikasi, kecakapan berinovasi, ide-ide dan gagasan baru yang berlandaskan budaya,” ucapnya.
Sementara Ketua Dewan Kesenian Bangka (DKB), Wandasona Alhamd, menyampaikan, jika budaya mestinya menjadi 'haluan' dalam pembangunan. Selama ini budaya seakan tidak mendapatkan tempat yang layak dalam pembangunan daerah.
"Harusnya budaya itu masuk ke segala arah. Saat pemerintah membangun tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat sekitar, mau bangun apa pun itu. Tapi kita lihat saja realitanya, apakah ada mindset membangun budaya itu tertanam, berapa besar anggaran yang diperuntukkan untuk pembangunan budaya. Termarjinalkan di daerah sendiri, begitu lah kira-kira nasib budaya daerah saat ini," ucap Wanda.
Lebih jauh Wanda mengutarakan jika memajukan budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku atau praktisi budaya saja. Pemerintah dan masyarakat wajib mendukung jika tidak ingin budaya lokal 'tumpas' tak bersisa.
"Sejujurnya agak miris kita. Ruang-ruang ekspresi budaya itu semakin kerdil, sempit sekali saat ini. Yang berbuat untuk melestarikan ya hanya para pelestari, para praktisi. Dukungan pemda minim, kemauan masyarakat untuk merawat yang 'kita miliki' juga sama. Harus ada langkah penyelamatan," pungkasnya.