Krisis Penyuluh Hambat Perhutanan Sosial Bangka Belitung
- 21 Apr 2026 23:03 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat – Program perhutanan sosial yang digadang menjadi solusi pemberdayaan masyarakat di Bangka Belitung masih menghadapi tantangan serius. Dalam dialog Lestari Alam Pro 1 RRI Sungailiat, terungkap bahwa keterbatasan jumlah penyuluh kehutanan menjadi kendala utama dalam optimalisasi program tersebut di lapangan.
Narasumber pertama, Darman Suriah, S.Hut, Penyuluh Kehutanan Madya Dinas LHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang hadir langsung di studio, menyampaikan bahwa saat ini jumlah penyuluh kehutanan hanya 32 orang untuk menjangkau 77 kecamatan. Ia menilai kondisi ini jauh dari ideal untuk mendampingi masyarakat secara maksimal.
Menurut Darman, peran penyuluh sangat krusial dalam memastikan kelompok perhutanan sosial mampu mengelola hutan secara lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi. “Dengan jumlah yang terbatas, tentu pendampingan tidak bisa merata dan intens,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang PDAS, KSDAE dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas LHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Oktedy Andryansah, S.Hut, M.Si., yang bergabung melalui sambungan telepon, mengakui kekurangan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. “ Kami terus mengupayakan penambahan tenaga penyuluh.”,Ungkapnya.
Oktedy menjelaskan bahwa program perhutanan sosial memiliki potensi besar dalam mendorong ekonomi masyarakat desa sekitar hutan. Namun, tanpa pendampingan yang memadai, masyarakat berisiko mengalami kesulitan dalam aspek teknis, administrasi, hingga pemasaran hasil hutan.

Ia juga menambahkan bahwa selain penambahan jumlah penyuluh, peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang ada menjadi langkah penting. Pelatihan dan penguatan kompetensi diharapkan dapat memaksimalkan kinerja penyuluh dalam kondisi keterbatasan.
Salah satu pendengar dari Puji di Deniang turut menyampaikan aspirasinya. Ia berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kebutuhan penyuluh di daerah. “Kami di desa sangat butuh pendampingan. Kadang kami bingung harus mulai dari mana dalam mengelola hutan secara legal dan menguntungkan,” Ungkapnya.
Tedy juga berharap sinergi antara pemerintah, penyuluh, dan masyarakat semakin kuat. Program Babel Berdaya melalui perhutanan sosial pun diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi mampu diwujudkan secara nyata demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....