Hoaks : Pasta Gigi Sembuhkan Luka Bakar

  • 08 Mei 2025 14:02 WIB
  •  Sungailiat

KBRN, Sungailiat : Mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa pasta gigi bisa digunakan untuk meredakan luka bakar ringan.

Disebutkan bahwa mengoleskan pasta gigi ke area kulit yang terbakar akan membantu mendinginkan kulit, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat penyembuhan. Klaim ini dipercaya oleh banyak orang karena dianggap sebagai solusi praktis yang mudah ditemukan di rumah.

Namun, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika, dr. Fransisca Sp.BPRE, kepada RRI dalam dialog “Dokter Menjawab” mengenal Luka Bakar dan Penanganannya membantah klaim tersebut. Menurutnya, penggunaan pasta gigi pada luka bakar justru dapat memperparah kondisi kulit.

“Pasta gigi mengandung zat-zat kimia seperti mentol dan fluoride yang dapat mengiritasi jaringan kulit yang sudah rusak,” ungkap dr. Fransisca.

Fransisca menambahkan bahwa tindakan ini bisa menyebabkan infeksi, memperlambat penyembuhan, dan bahkan meninggalkan bekas luka permanen karena ketika mengalami luka bakar itu berarti sedang berada dalam kondisi sensitif dan rapuh. Penggunaan bahan non-medis seperti pasta gigi bisa mengacaukan proses regenerasi kulit.

“Beberapa pasien datang ke klinik dengan kondisi luka memburuk hanya karena percaya pada informasi yang salah,” ujarnya.

Baca juga : Pemerhati Lingkungan Soroti Hilangnya Ruang Hijau di Perkotaan

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tips yang belum terbukti secara medis.

Untuk menangani luka bakar ringan dengan benar, dr. Frasisca menyarankan langkah-langkah berikut:

Pertama, siram area luka dengan air mengalir bersuhu normal selama 10–20 menit untuk menurunkan suhu kulit. Kedua, hindari penggunaan es, mentega, atau pasta gigi.

Ketiga, tutup luka dengan kain bersih atau kasa steril tanpa menekan luka. Bila luka cukup luas, melepuh, atau menyebabkan nyeri hebat, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.

Dokter yang bertugas di Siloam Hospital Bangka Belitung ini mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama yang berkaitan dengan pertolongan pertama. Dan mendorong adanya kampanye edukatif dari pemerintah dan tenaga kesehatan untuk memerangi hoaks kesehatan yang berpotensi membahayakan nyawa

“Jangan hanya karena sesuatu viral lalu dianggap benar. Pastikan informasi berasal dari sumber terpercaya atau tenaga medis,” tambahnya.

Rekomendasi Berita