Pembakaran Thai Se Ja Simbol Kepulangan Arwah

  • 28 Agt 2026 17:26 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Pembakaran patung Thai Se Ja menjadi salah satu puncak tradisi sembahyang rebut atau Chit Ngiat Pan masyarakat Tionghoa di Bangka Belitung. Tradisi ini digelar setiap tanggal 15 bulan ketujuh kalender Tionghoa dan dipercaya sebagai momentum para arwah kembali ke alam akhirat setelah berada di dunia manusia.

Ko Apen, warga Tionghoa di Pemali, mengatakan Thai Se Ja dipercaya sebagai dewa atau raja akhirat yang memiliki tugas mengawal para arwah. "Pembakaran Thai Se Ja menjadi tanda bahwa tugasnya mengawal arwah sudah selesai dan arwah kembali ke alamnya," ujar Ko Apen dalam acara Ngupi Pagi di Pro4 RRI Sungailiat, Jumat 28 Agustus 2026.

Prosesi pembakaran biasanya dilakukan setelah masyarakat melakukan sembahyang, memberikan persembahan, dan mengikuti ritual perebutan sesaji pada malam puncak. Pembakaran patung juga dimaknai sebagai simbol pelepasan dan pengembalian arwah ke alam akhirat sehingga rangkaian sembahyang rebut berakhir.

Sementara itu, Ko Atiau, warga Tionghoa di Kuday, mengatakan pembakaran Thai Se Ja bukan sekadar membakar patung, tetapi memiliki makna simbolis bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut. "Setelah semua rangkaian selesai, Thai Se Ja dibakar sebagai tanda arwah sudah kembali dan kehidupan manusia dapat berjalan seperti biasa," kata Ko Atiau.

Pembakaran Thai Se Ja umumnya dilakukan sekitar tengah malam dan menjadi penutup rangkaian sembahyang rebut. Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, prosesi tersebut juga menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus berakhirnya masa keberadaan arwah di dunia manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....