Beduk Ketiter, Budaya Sambut 1 Syawal yang Lestari
- 20 Mar 2026 22:14 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Parade Beduk Ketiter terdengar seiring kumandang gema takbir di Halaman Masjid Agung Sungailiat Kabupaten Bangka, Jumat, 20 Maret 2026 malam. Suara Beduk Ketiter sekaligus menyambut datangnya 1 Syawal 1447 H, sebagaimana yang ditetapkan pemerintah.
Parade beduk terselenggara sebagai kegiatan penutup E-MAS Ramadan Fair 18 Februari - 18 Maret 2026 di Halaman Masjid Agung Sungailiat. Parade itu melibatkan Bangka Percussion, Djenggo Percussion, dan Ponpes Darul Ilmi Wal qur'an Sungailiat.
"Festival beduk ini, mudah-mudahan menjadi budaya yang baik. Kita doakan juga menjadi baik pula ke depan bagi Pemerintah Kabupaten Bangka," kata Bupati Bangka Fery Insani saat menutup E-MAS Ramadan Fair, Jumat malam, 20 Maret 2026.
Bupati mengapresiasi kepada seluruh panitia yang sudah menggelar seluruh rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir. Ia pun menyadari masih banyak kekurangan dan dijanjikan ke depan akan diupayakan lebih baik.
Bupati Bangka juga mengapresiasi terhadap keterlibatan pengurus Masjid Agung Sungailiat (MAS), jajaran Polres Bangka, para pelaku UMKM dan sambutan masyarakat selama E-MAS Ramadan Fair. Terlepas.dari kekurangan, itulah yang bisa dilakukan Pemkab Bangka, seraya berharap ke depan lebih baik. Lebih dari itu ia berharap agar semua masyarakat bisa mengambil hikmah Ramadan.
"Ramadan mengajarkan kita untuk berbagi, Ramadan mengajarkan kita taqwa. Mari berbuat yang terbaik untuk Pemkab Bangka ke depan," kata Bupati Fery.
Terkait pelaksanaan Parade Beduk, tokoh masyarakat, pelaku budaya mengapresiasi panitia yang sudah berinisiatif dalam pelestarian budaya. Mereka senada.mengakui Beduk Ketiter
menjadi irama khas yang dipukul untuk menyambut kegembiraan hari kemenangan umat Islam, Hari Raya Idilfitri.
Menurut Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian pada masa lampau beduk juga sebagai penanda dimulainya puasa, setelah penghulu, khatib dan modin bersepakat setelah melihat hilal untuk memulai puasa. Pada saat hari raya beduk dipukul khas dengan irama kegembiraan yang disebut Beduk Ketiter.
"Beduk ketiter ini menjadi kegembiraan tersendiri bagi anak anak untuk memukulnya, bila perlu sampai pecah dan selanjutnya digantikan dengan kulit baru," kata Akhmad Elvian ketika dikonfirmasi via WhatsApp.
Ia juga meyakini beduk yang semula menjadi media tradisional untuk komunikasi hingga kini tetap menjadi budaya di tengah masyarakat meski di era digital saat ini. Beduk memiliki nilai historis dan spiritual yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....